artikelmr

Pemboikotan telah membuat kondisi fisik Khadijah melemah dan jatuh sakit. Rasulullah saaw selalu berada di samping Khadijah selama beliau sakit. Setelah beberapa hari sejak hancurnya piagam pemboikotan, wafatlah Khadijah ra di hadapan Rasulullah saaw.
Tak lama setelah wafatnya Khadijah, kini pamannya, Abu Thalib jatuh sakit. Mengetahui akan hal ini, para tokoh Quraisy mengadakan pertemuan. Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba menemui Abu Thalib dan membujuknya. Mereka berfikir bahwa dengan kondisinya sekarang pendirian Abu Thalib akan berubah dan mau menyerahkan Muhammad Rasulullah saaw kepada mereka. Lalu mereka menemui Abu Thalib dan berkata, “Wahai Abu Thalib, engkau telah memahami kondisi antara kami dengan keponakanmu. Panggillah dia. Ambillah dari kami untuk dia, dan ambillah dari dia untuk kami. Dia tidak menyerang kami, dan kami tidak menyerang dia. Dia membiarkan kami engan agama kami. Dan kami membiarkan dia dengan agamanya.”
Kemudian Abu Thalib memanggil Rasulullah saaw dan berkata, “Wahai Muhammad, mereka menawarkan untuk memberimu sesuatu yang kau kehendaki dan meminta darimu sesuatu yang mereka kehendaki.”
Muhammad sang Rasul pun bersabda, “Wahai paman, satu kalimat saja engkau berikan, dan bila mereka menerimanya, maka kalian akan menguasai seluruh bangsa Arab dan dan bangsa ‘ajam.”
Abu Jahl berkata, “Baiklah, demi ayahmu, kalau perlu sepuluh kalimat.”
Rasulullah saaw berkata, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah. Tiada tuhan yang haq kecuali Allah. Dan kalian tinggalkan apa yang kalian sembah selain Allah.”
Para tokoh Quraisy itu menolaknya dan pergi meninggalkan Rasulullah dan Abu Thalib.
Abu Thalib berkata kepada Rasulullah, “Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tak melihat bahwa engkau meminta kepada mereka sesuatu yang berlebih-lebihan!”
Rasulullah saaw bersabda, “Kalau begitu, ucapkanlah wahai paman!”
Abu Thalib menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku ingin sekali mengucapkan itu. Akan tetapi aku khawatir, orang-orang Quraisy akan menuduh aku bahwa aku mengucapkan itu hanya karena takut mati.”
Suatu hari, ketika Rasulullah sedang ada suatu keperluan, Ali bin Abi Thalib datang menemui beliau saaw. Ali mengabarkan bahwa Abu Thalib telah wafat. Tak kuasa menahan kesedihannya, Rasulullah menangis terisak-isak.
Abu Thalib adalah orang yang telah mengasuh Rasulullah sejak kecil. Abu Thalib mengasihi beliau seperti anaknya sendiri. Abu Thalib juga yang telah membela dan melindungi Rasulullah dan da’wah beliau. Bahkan Abu Thalib berseru kepada semua Bani Hasyim agar mengikuti dan membela Rasulullah saaw.
Dengan dalil bahwa Abu Thalib telah meninggalkan sesembahan-sesembahan kaum musyrik, mengakui kebenaran apa yang di bawa Muhammad Rasulullah, mengakui kebenaran wahyu yang turun kepadanya, mengakui kebenaran tauhid, dan juga atas segala sikap Abu Thalib terhadap Rasulullah saaw; maka sebagian orang berpendapat bahwa Abu Thalib itu sebenarnya seorang muslim. Hanya saja Abu Thalib menyembunyikan keislamannya dari siapa pun, bahkan terhadap Rasulullah, agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy. Dengan demikian kaum Quraisy tetap memandang Abu Thalib sebagai pemimpin mereka dan mematuhi kata-katanya, sehingga kelangsungan da’wah Rasulullah dapat mencapai tahap kemapanan. Pada saat itu, peran Abu Thalib pun selesai. Maka kehadiran Khadijah dan Abu Thalib dalam kehidupan Rasulullah adalah suatu hikmah dari Allah Al-Hakim, dan kepergian mereka adalah tahap pendidikan baru bagi Rasulullah saaw.
Tidak ada kesepakatan jumhur ulama yang mengatakan bahwa Khadijah dan Abu Thalib itu mati dalam kesyirikan. Maka tahanlah lidah-lidah yang menuduh mereka berdua sebagai musyrik. Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika Rasul mengajarkan kalimat tauhid di telinga Abu Thalib, kemudian Rasul mendekatkan telinganya ke mulut Abu Thalib, Rasul tidak mendengar Abu Thalib berkata-kata, hanya saja Umar bin Khaththab melihat bibir Abu Thalib bergerak-gerak. Lalu Umar berkata, “Aku melihat bibirnya bergerak wahai Rasulullah.” Tetapi Rasul berkata, “Aku tidak dengar.” Setelah mengajarkan kalimat tauhid itu, Abu Thalib tidak lagi berbicara. Ketika Rasulullah sedang di luar rumah Abu Thalib, Abu Thalib pun wafat. Wallahu a’lam

Artikel Terkait

 

 Subscribe in a reader

Untuk berlangganan artikel via email, masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner