03 April 2008M | 26 Rabiul Awal 1429H

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M.

Diambil dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H / September 2005 M

Artikel Terkait

 

 Subscribe in a reader

Untuk berlangganan artikel via email, masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Jakarta
Prayer Time
Fajr 4:34 AM
Sunrise 5:49 AM
Dhuhur 11:53 AM
Asr 3:07 PM
Maghrib 5:52 PM
Isha 7:05 PM

 

13 Responses to “Sejarah Wahhabi”  

  1. 1 urang Bogor

    sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan

  2. 2 honjengora

    Telah banyak tulisan dari para ulama yang shalih dari berbagai negeri yang memuat tentang ahlak wahabi, yang sumber-sumbernya sangat dapat dipercaya, termasuk kesaksian Ibnu Batuthah tentang keindahan pemakaman Baqi’ dengan kubah-kubahnya yang indah, tempat bersemayamnya jasad mulia keluarga dan para sahabat Rasulullah yang kemudian diluluhlantakan oleh gerombolan wahabi. Semoga tulisan2 tersebut dapat menyehatkan akal orang2 yang sakit.

  3. 3 bendot

    mudah-mudahan banyak para pengikut ajaran wahabi membaca tulisan ini dan kembali pada ajaran yang benar……..amin

  4. 4 Garnia

    Semoga Allah SWT melindungi para hambaNYA yang mencari kebenaran,dan para hambaNYA pengikut jejak Rasullulah SAW dan kaum Shalihin dari faham-faham yang menyesatkan seperti sekte wahabi ini. Dengan adanya tulisan ini, kita kaum Muslimin berharap agar senantiasa berhati-hati dalam mengikuti suatu ajaran. Kita harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan ; salah satunya tulisan ini adalah bekal untuk kita dalam filterisasi ajaran-ajaran Islam. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua dengan limpahan Rahmatnya…terutama untuk penulis/panyampai info di atas Amiin!

    Aamiin

  5. 5 prowahabi

    Artikel yang sangat tidak Akurat!! hmmm, siapa bilang Syeikh Muhammad tidak boleh ziarah kubur?yang tidak boleh itu ya menyembah kuburan, entah kuburan wali,nabi dsb.

    Nah Anda juga ga akurat dong kalo gitu. Soalnya kami ga pernah tuh nyembah kuburan. :mrgreen:

    Tawassul kepada orang yang sudah mati mana ada dalilnya…

    Ada dong… Nabi sendiri kok yg nyontohin. Wah… malu2in almamater PTS nih (Perguruan Tinggi Salafy).

    masa iya orang meninggal bisa memberi manfaat.

    Lah ini orang yg salah kaprah dan ga akurat.
    Yang minta sama orang meninggal itu siapa?
    Kami mah mintanya sama Allah. Tawassul itu ‘kan berdoa kepada Allah bukan kepada perantaranya. Emang kalo Anda bertawassul dg amal shalih berarti Anda meminta kepada amal shalih? Kalo Anda bertawassul dg amal shalih berarti Anda menganggap bahwa amal shalih itu bisa memberi manfaat? Anda fikir bahwa orang hidup bisa memberi manfaat dan orang mati tidak? Jadi menurut Anda orang hidup dan amal shalih Anda bisa memberi manfaat? Jadi menurut Anda orang hidup dan amal shalih itu bisa dimintai pertolongan.
    Tidak ada yg bisa memberi manfaat kecuali Allah. Tauhid Anda dah keliru tuh. Masa’ iya sih ada yg bisa memberi manfaat selain Allah?

  6. 6 prowahabi

    Contohnya seperti apa??dalilnya sekalian dech…

    Ini adalah dalil dan contoh lafazh yg diajarkan Rasul dalam bertawassul:

    Bahwasanya Nabi SAAW pernah berdo’a dengan mengatakan, “Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.” [HR. Imam Thabrani]

    Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]

  7. 7 prowahabi

    1. Berkeyakinan bahwa berdo’a kepada Allah Ta’ala sambil bertawasul
    dengan orang shalih yang sudah mati (kyai, habaib dan semisalnya)
    lebih diterima oleh Allah Ta’ala. Hal ini juga merupakan perkara
    yang bathil dan haram, karena tidak pernah dilakukan oleh para
    sahabat Nabi Shallallahu `alaihi wassalam, bahkan Umar
    Radiyallahu `anhu ketika di jamannya ditimpa paceklik, beliau tidak
    bertawasul kepada Nabi Shallallahu `alaihi wassalam karena beliau
    Shallallahu `alaihi wassalam sudah wafat, namun Umar
    Radiyallahu `anhu meminta kepada paman Nabi Shallallahu `alaihi
    wassalam untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala.(Fatawa Arkanul Islam
    lisy Syaikh Ibnu `Utsaimin hal. 182)

    Padahal Allah Ta’ala berfirman :

    æóÅöÐóÇ ÓóÃóáóßó ÚöÈóÇÏöí Úóäøöí ÝóÅöäøöí ÞóÑöíÈñ ÃõÌöíÈõ ÏóÚúæóÉó ÇáÏøóÇÚö
    ÅöÐóÇ ÏóÚóÇäö ÝóáúíóÓúÊóÌöíÈõæÇ áöí

    (artinya): “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku, maka
    sesungguhnya Aku amat dekat dan Aku mengabulkan orang yang berdo’a
    jika dia berdo’a kepada-Aku”. (QS. Al Baqarah: 186)

    Bahkan Allah Ta’ala mengolok-olok orang-orang yang lalai lagi bodoh
    ketika menjadikan sebagian hamba-Nya sebagai wasilah, padahal orang-
    orang shalih tersebut butuh pada wasilah berupa ketaatan (amalan
    shalih) kepada-Nya dan tidak ada cara lain yang bisa mendekatkan
    diri kepada Allah Ta’ala :

    ÃõæáóÆößó ÇáøóÐöíäó íóÏúÚõæäó íóÈúÊóÛõæäó Åöáóì ÑóÈøöåöãõ ÇáúæóÓöíáóÉó
    Ãóíøõåõãú ÃóÞúÑóÈõ æóíóÑúÌõæäó ÑóÍúãóÊóåõ
    æóíóÎóÇÝõæäó ÚóÐóÇÈóåõ

    (artinya): “Mereka orang-orang yang diseru juga mencari wasilah
    menuju kepada Robb-Nya! siapa yang lebih dekat (kepada Allah- red)
    dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya”. (QS. Al
    Isra’: 58)

    2. Meyakini bahwa para wali atau orang shalih mengetahui ilmu ghaib.

    Rasulullah Shallallahu `alaihi wassalam adalah imam para rasul,
    tidaklah mengetahui perkara yang ghaib atau perkara yang akan
    terjadi apalagi mereka yang bukan termasuk dari kalangan para Nabi.
    Allah Ta’ala berfirman :

    Þõáú áÇó Ãóãúáößõ áöäóÝúÓöí äóÝúÚðÇ æóáÇó ÖóÑøðÇ ÅöáÇøó ãóÇ ÔóÇÁó Çááøóåõ
    æóáóæú ßõäúÊõ ÃóÚúáóãõ ÇáúÛóíúÈó
    áÇóÓúÊóßúËóÑúÊõ ãöäó ÇáúÎóíúÑö æóãóÇ ãóÓøóäöíó ÇáÓøõæÁõ

    (artinya): “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfatan pada
    diriku dan tidak pula mampu menolak kemudhorotan kecuali yang di
    kehendaki oleh Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
    tentulah aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak
    akan ditimpa kemudhoratan”. (Al A’raf: 188)

    3. Meyakini bahwa wali atau orang shalih (kyai, habaib dan
    semisalnya) mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau
    mampu menjawab do’anya orang yang berdo’a kepada mereka ketika masih
    hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yang nyata
    dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu `alaihi
    wassalam dan para nabi dan rasul. Allah Ta’ala berfirman :

    æóáÇó ÊóÏúÚõ ãöäú Ïõæäö Çááøóåö ãóÇ áÇó íóäúÝóÚõßó æóáÇó íóÖõÑøõßó ÝóÅöäú
    ÝóÚóáúÊó ÝóÅöäøóßó ÅöÐðÇ ãöäó ÇáÙøóÇáöãöíäó

    (artinya): “Maka janganlah kamu berdo’a (beribadah) selain dari
    Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan pula memberi mudhorot
    padamu, kalau sekiranya kamu kerjakan sungguh kamu termasuk orang-
    orang yang dholim”. (QS. Yunus: 106)

    Dan juga Allah Ta’ala berfirman :

    æóãóäú ÃóÖóáøõ ãöãøóäú íóÏúÚõæ ãöäú Ïõæäö Çááøóåö ãóäú áÇó íóÓúÊóÌöíÈõ áóåõ
    Åöáóì íóæúãö ÇáúÞöíóÇãóÉö æóåõãú Úóäú
    ÏõÚóÇÆöåöãú ÛóÇÝöáõæäó

    (artinya): “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang
    menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat
    memperkenakan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari
    (memperhatikan) do’a mereka”?. (Al Ahqaf:5)

    Ini hanya sebagian kecil dan masih banyak lagi dari perbuatan dhahir
    (mu’amalah) ataupun i’tiqodiyyah (amalan batin) yang melampaui batas
    (ghuluw) terhadap orang-orang shalih.

    Bos, Anda ngoceh sengoceh-ngocehnya tanpa paham bagaimana i’tiqod kami sesungguhnya. Coba pahami dulu komentar kami sebelumnya.
    Ocehan Anda itu tidak akurat bos. Kami tidak seeprti yg Anda tuduhkan. Kami tidak meminta kepada manusia. Kami meminta kepada Allah. Bahkan Nabi telah bertawassul dengan Nabi2 sebelum beliau. Nabi Adam juga telah bertawassul dengan Nabi Muhammad.

    Nabi Muhammad itu mengetahui sebagian hal ghaib yg Allah beritahukan kepada beliau. Beliau tahu tanda2 kiamat. Bukankah tanda2 kiamat itu perkara ghaib? Dan Nabi mengetahui bahwa ada segolongan jin yg mendengarkan bacaan Al-Qur`an.

    Orang seperti Anda dan ustadz Anda mau menafsirkan Al-Qur`an dan hadits? Anda dan ustadz Anda itu lemah aqal dan kurang ilmu. Buktinya Anda dan ustadz2 Anda berfikir bahwa matahari itu berputar mengelilingi bumi. Itu adalah bukti bahwa kredibilitas kalian telah runtuh. kalian itu bukan orang-orang yg tsiqoh. Kalian tidak pantas diambil ilmunya.

    Justeru Anda yg ghuluw dalam taklid kepada ustadz2 Anda.

  8. 8 omar

    Masalah Wahabi Di Indonesia masalah Sensitip.Karena Golongan Wahabi TIDAK PERNAH MENGADAKAN TAHLIL ,MAULID DLLBANYAK KALANGAN HABAIB ULAMA SERTA USTAD Takut Ladang Pencarian mereka Hilang Karena Tidak mengisi Acara maulid dan tahlil.Wahabi Tidak Pernah memulyakan Kuburan meminta dari kubur.Saya sendiri Masuk menjadi Wahabi Karena disana Ada keberan Yang HAQ

  9. 9 ikhsan

    wah sejarah wahabinya ngaco, gak ngaruh deh lu

  10. 10 Aman Sanjaya

    weleh2…..
    lagi2 masalah tawasul, tahlil dsb…………
    ini kan masalah furu’, gak penting dan gak mutu untuk di bantah2 kan
    apalagi sampai keroyokan
    huahahahahahhahahahahahahahhahahahahahahahaha
    ayo bareng2 belajar bahasa arab, belajar fikih jangan hanya manut sama ustadz/ kyai / habib dsb
    kalo memang ngambil jalur fikih / madzhab yg beda ngapain bertengkar
    wong kita itu ngambil dari Al Qur an dan Hadist yg sama
    cuman karena beda pemikiran, beda pemahaman gak menjadikan
    secara otomatis si anu masuk surga si anu masuk neraka
    bwahahahahahahhahahahahahahahahahaha
    kenapa sih kita banyak berdebat masalah bid ah? ayat / hadist tentang bid ah ada berapa sih?
    wong cuman 1 hadist yg selalu digembar gemborkan
    coba liat banyakan mana ayat yg menyuruh kita untuk berfikir/berijtihad dibanding masalah bid ah?
    saya setuju tawassul yg syar’i dan tidak memberatkan kita

  11. 11 Abdulghani

    Sejarah ini benar2 dusta. Saya menduga orang yg menulisnya membenci ajaran muhammad saw, mungkin saja dari yahudi ato syi’ah ato ahlu bid’ah yg ketiganya paling menyukai ritual bertawasul kpd orang yg mati dan orang yg paling memusuhi sunnah nabi dan kaum yg paling mencintai acara2 seremonial yg tak pernah di contohkan oleh para sahabat nabi dan nabi sendiri seperti maulud nabi_mengagungkan dan meninggikan kuburan para orang2 sholih. Akhir kalam moga ALLOH membuka kedok penulis cerita dusta sejarah wahabi diatas

    Rupanya pak Abdulghani ini adalah pembenci ajaran Muhammad Rasulullah SAAW dan tidak mau memulyakan orang-orang yang dimulyakan Allah. Mirip sekali dengan Iblis. Bukankah ulama itu 1000 derajat lebih mulya dari kita? Bukankah kita harus bergembira dengan lahirnya Nabi? Allah telah membuka kedok Anda pak.

    Bahwasanya Nabi SAAW pernah berdo’a dengan mengatakan, “Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.” [HR. Imam Thabrani]

  12. 12 mujib azzam

    jadi begini..ketika membaca artikel diatas yang sy fikirkan adalah bagaimana saya harus percaya karena bahasanya saja sudah subjektif dan emosional. Jelas sekali tidak dapat masuk koridor ilmiyah. yang kedua, data yang dihadirkan misal ttg sejarah wahabi membunuh dengan jumlah segitu..itu perlu dianalisis kembali sebab-sebabnya, pengaruh politik waktu itu misal yg carut marut, pengaruh gerakan2 islam masa itu yang mulai menggeliat kembali, dll…yang ketiga mengkritik ttg pernyataan berupa hadist dan pendapat yang anda berikan, lebih baik disertai sumber didapatnya. memang kalo ngomong ttg salafy agak susah karena sangat reaktif dan emosional…reaktif karena melihat masalah tidak mendalam dan emosional karena tidak berfikir panjang. tidak heran jika keberadaan mereka begitu meresahkan orang2 berilmu. tapi, anda juga jangan meresahkan orang2 karena pendapat2 anda yg subjektif dan tidak ilmiyah…

  1. 1 Wahabisme » Blog Archive » Sejarah Wahabisme
Posting Your Comment
Please Wait

Tinggalkan sebuah Komentar

There was an error with your comment, please try again.

Letakkan kursor di atas emoticon untuk mengetahui kodenya.
Ketik kode tersebut pada komentar Anda.
Pada browser tertentu, Anda bisa langsung mengklik pada ikon untuk menyisipkan.
  • :em42:
  • :em41:
  • :em60:
  • :em48:
  • :em11:
  • :em69:
  • :em49:
  • :em18:
  • :em01:
  • :em04:
  • :em45:
  • :em64:
  • :em33:
  • :em59:
  • :em06:
  • :em12:
  • :em52:
  • :em02:
  • :em66:
  • :em67:
  • :em29:
  • :em03:
  • :em19:
  • :em50:
  • :em63:
  • :em07:
  • :em09:
  • :em65:
  • :em47:
  • :em05:
  • :em37:
  • :em14:
  • :em13:
  • :em61:
  • :em51:
  • :em17:
  • :em24:
  • :em30:
  • :em31:
  • :em34:
  • :em22:
  • :em53:
  • :em58:
  • :em54:
  • :em57:
  • :em23:
  • :em71:
  • :em44:
  • :em08:
  • :em56:
  • :em43:
  • :em36:
  • :em35:
  • :em26:
  • :em27:
  • :em68:
  • :em20:
  • :em39:
  • :em55:
  • :em28:
  • :em70:
  • :em10:
  • :em38:
  • :em62:
  • :em15:
  • :em46:
  • :em25:
  • :em32:
  • :em21:
  • :em40:
  • :em16: