artikelmr

Rasulullah dan para shahabat di Makkah berencana untuk hijrah ke Yatsrib. Akan tetapi Rasulullah tidak berani untuk mengambil keputusan sebelum memperoleh perintah dari Allah. Maka turunlah ayat 97 dari surat An-Nisa` yang menjelaskan tentang bolehnya berhijrah.
Maka para shahabat pun berhijrah ke Yatsrib. Mereka berhijrah secara diam-diam agar tidak diketahui kafir Quraisy.
Mengetahui akan hal ini, kafir Quraisy membuat rencana untuk membunuh Rasulullah sebelum beliau saaw hijrah. Mereka takut bahwa Rasulullah membangun kekuatan di Yatsrib dan menyerang Makkah.
Rencana keji kafir Quraisy diketajui oleh Rasulullah saaw dan beliau diperintahkan oleh Allah SWT agar segera hijrah ke Yatsrib.
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. [QS. 29:56]
Lalu Rasulullah memberitahukan hal ini kepada Abu Bakar agar beliau mempersiapkan keberangkatan ke Yatsrib menemani Rasulullah saaw. Betapa gembira Abu Bakar dapat menemani manusia yang paling ia cintai.
Pada malam hari ketika pemuda-pemuda Quraisy sedang mengepung rumah baginda Rasul dan siap membunuh beliau, Rasulullah saaw berkemas-kemas untuk meninggalkan rumah. Disuruhnya Ali bin Abi Thalib ra agar menempati tempat tidur beliau saaw, supaya orang-orang Quraisy mengira bahwa beliau saaw masih tidur. Kepada Ali diperintahkan juga agar mengembalikan barang yang dititipkan kepada beliau saaw ke pemiliknya masing-masing. Kemudian secara diam-diam beliau pergi keluar rumah. Beliau mengambil segenggam pasir dan melemparkan/menghamburkan pasir itu ke atas kepala pemuda-pemuda Quraisy yang mengepung beliau. Maka para pemuda itu pun tertidur.
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. [QS. 36: 8-9]
Dengan sembunyi-sembunyi Rasulullah perg menuju rumah Abu Bakar ra. Kemudian mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang rumah, menuju gua di bukit Tsur, sebelah selatan kota Makkah, lalu mereka sembunyi di gua itu.
Setelah para pemuda itu mengetahui bahwa Rasulullah saaw tidak ada di rumah dan terlepas dari kepungan mereka, maka mereka menjelajahi seluruh kota untuk mencari Nabi. Akhirnya kafir Quraisy sampai juga di gua Tsur. Tetapi dengan idzin Allah, di muka gua itu terdapat sarang laba-laba berlapis-lapis, seolah-olah terjadinya beberapa minggu sebelum Nabi dan Abu Bakar pergi dari Makkah. Melihat ada sarang laba-laba yang utuh, mereka tidak curiga bahwa ada orang di dalam gua itu. Maka gagallah pengejaran mereka. Abu Bakar berkata, “Seandainya mereka melihat kaki mereka, niscaya mereka akan melihat kita.” Lalu Raulullah saaw bersabda, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Jikalau kamu tidak menolong Muhammad maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya dari Mekah sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. 9: 40]
Maka Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu beberapa hari, menunggu keadaan aman. Ketika Rasulullah merasa letih dan tertidur, Abu Bakar melihat ada lubang-lubang yang kemungkinan adalah sarang ular. Maka Abu Bakar merobek-robek bajunya untuk menyumpal lubang-lubang itu. Setelah bajunya habis, masih terdapat satu lubang yang belum tertutup. Maka Abu Bakar menutupnya dengan jempol kakinya. Akan tetapi ternyata, lubang yang dia tutup dengan jempol kakinya itulah yang terdapat ularnya. Ular itu pun menggigit jempol kaki Abu Bakar yang mulya itu. Maka keluarlah peluh dari tubuh Abu Bakar mengenai Rasulullah hingga beliau saaw terjaga. Mengetahui keadaan Abu Bakar, beliau saaw langsung menghisap bisa dari jempol kaki Abu Bakar dengan mulutnya yang mulya dan mengeluarkan bisa itu. Lalu Rasulullah kembali menenangkan Abu Bakar dan memberinya semangat.
Setelah tiga hari bersembunyi di gua itu, dan keadaan sudah dirasakan aman, maka Rasulullah saaw dan Abu Bakar baru meneruskan perjalanan menyusuri pantai Laut Merah, dan Ali bin Abi Thalib menyusul kemudian.

Artikel Terkait

 

 Subscribe in a reader

Untuk berlangganan artikel via email, masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner