Perayaan Maulid telah menjadi kebiasaan (sunnah) yang dilakukan oleh mayoritas ummat Islam. Suatu kebiasaan yang baik. Tidak hanya di Indonesia, maulidur Rasul juga dirayakan di negeri-negeri Muslim lain seperti Mesir, bahkan Arab Saudi. Lalu datanglah kaum sempalan yang mengatakan perayaan Maulid ini sebagai perkara bid’ah, dan setiap bid’ah adalah dholalah, serta setiap dholalah fin-naar.
Sebagian masyarakat yang awam tentang dalil-dalil perayaan Maulid pun ada yang termakan omongan penuh tipuan itu. Sedikit demi sedikit, masyarakat menjadi jarang melakukannya. Bertambahlah dekadensi akhlaq.
Lalu masyarakat coba menggiatkan kembali perayaan Maulid ini. Namun muncul pula orang-orang sok pintar yang berkata, “Cobalah dipikir-pikir kembali! Apa manfaatnya? Perayaan Maulid hanya menjadi rutinitas belaka yang sia-sia. Tidak ada dampak positif bagi masyarakat.”
Beberapa tahun menjelang akhir millenium kedua, hadirlah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa membina beberapa pemuda. Mereka diajarkan menabuh hadroh, membaca rawi, dan segala perkara yang dianggap sia-sia oleh kelompok sok pintar.
Habib Munzir dengan sabar menanamkan kecintaan kepada sang Nabi SAW di hati para pemuda itu. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Dari beberapa pemuda menjadi puluhan pemuda. Dari ratusan pemuda menjadi ribuan pemuda. Dan kini, telah ratusan ribu pemuda yang tercerahkan dan terlembutkan hatinya. Telah ratusan ribu pemuda yang mencintai Nabi dan sunnah beliau SAW.
Acara maulid yang digelar setiap Senin malam itu ternyata tidak sia-sia. Dari acara Senin malam itulah terpancar hidayah Allah kepada para pezina, pemabuk, residivis, pemakai narkoba, hingga mereka semua bertaubat dan bergabung dalam kemulyaan dzikrullah dan shalawat. Terpancar pula hidayah di malam-malam lain, hingga terang-benderanglah malam-malam Jakarta, sebagaimana alam buana telah menjadi terang-benderang dengan cahaya Allah, dan itu dimulai dari Senin Shubuh yang mulya ketika sang pembawa cahaya itu (SAW) lahir.
Maka kelompok sok pintar pun akhirnya melakukan apa yang mereka sebut sebagai rutinitas yang sia-sia. Demi mengantarkan hidayah? Entahlah. Yang pasti, mereka melakukan rutinitas yang sia-sia itu menjelang PILKADA dan PEMILU. Ternyata rutinitas yang sia-sia itu tidaklah sia-sia seperti yang mereka katakan dulu. Maka dari itu, janganlah Anda merasa lebih pintar dari ulama-ulama shalih terdahulu yang lurus. Kebiasaan-kebiasaan baik yang mereka ajarkan bukanlah lahir dari hati yang kelam. Tetapi dari hati yang penuh cahaya hikmah dan ma’rifah.
Artikel Terkait
- MP3 Maulid Adh-Dhiyaul Lami’
- Maulid Adh-Dhiya` Al-Lami
- Wallpaper Maulid Adh-Dhiyaul-Lami
- Habib Umar Bin Hud Al Athos
- MERAYAKAN MAULIDUR RASUL SAAW

No Responses to “Maulid, Rutinitas Sia-Sia”
Please Wait
Tinggalkan sebuah Komentar