Masjid, Maulid, dan Tahlilan
Lokasi Membangun Masjid
Dalam kitab Iqtidho-ush Shirothol Mustaqim Mukholafata Ash-habil Jahim, yang diterjemahkan Abu Fudhail dengan judul Jalan Islam Versus Jalan Setan (selanjutnya JIVJS), diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan pada Oktober 2001, halaman 175-176, Ibnu Taymiyah mengutip riwayat Imam Ahmad dari Sayidina Ali ra, berkata: “Beliau SAW tidak suka shalat di negeri Babilon dan negeri yang telah dimusnahkan (melalui adzab)”.
Maka jelaslah, menurut Ibnu Taymiyah, membangun Masjid di tempat yang pernah turun siksa padanya merupakan perbuatan bid’ah. Dan masuk ke dalam Masjid yang dibangun dengan bid’ah adalah haram. Sama hukumnya dengan Masjid Dhiror.
Namun membangun Masjid di tempat yang dulunya pernah terjadi ma’siat tetapi tidak sampai turun adzab adalah dibolehkan. Misalnya mengubah Gereja menjadi Masjid. Bahkan Masjid Nabawi dibangun di atas tanah bekas kuburan orang musyrik.
Bentuk Masjid
Bentuk Masjid yang dibangun Rasulullah SAAW pada awalnya berbeda dengan Masjid yang dibangun saat ini. Lantainya tidak menggunakan marmer atau pun karpet. Atapnya juga tidak berkubah. Bentuk Masjid berkembang hingga menjadi bentuknya yang sekarang ini setelah bersentuhan dengan kebiasaan bangsa ajam (non-Arab).
Adab Memasuki Masjid
Dalam JIVJS halaman 333, Ibnu Taymiyah berkata: “Allah juga memerintahkan kita untuk shalat mengenakan sandal, untuk membedakan diri kita dari orang-orang Yahudi.”
Ummat nabi Musa hanya boleh sholat di dalam Baitullah. Dan mereka harus melepaskan terompah mereka sebelum masuk ke Bait Allah. Sedangkan ummat nabi Muhammad boleh sholat di mana saja, namun ada tempat-tempat tertentu yang makruh bahkan haram shalat di situ. Dan Nabi telah shalat dengan mengenakan terompahnya. Sedangkan beliau adalah uswatun hasanah.
Perayaan
Merayakan merupakan perbuatan mengistimewakan suatu peristiwa. Peristiwa yang biasa dirayakan itu antara lain adalah peristiwa proklamasi kemerdekaan, berdirinya suatu partai (milad partai), kelahiran seseorang, pernikahan, dsb. Semua itu umum dirayakan orang. Adapun peristiwa istimewa dalam suatu agama juga biasa dirayakan oleh masing-masing pemeluknya pada hari raya keagamaan mereka.
Dalam Islam juga ada hari-hari tertentu yang memiliki nilai sejarah atau pun keistimewaan. Misalnya hari Senin, hari dimana Nabi Muhammad SAAW dilahirkan. Begitu juga hari Jum’at (hari keenam), hari dimana Nabi Adam diciptakan. Tanggal 10 Muharram, hari dimana Nabi Musa diselamatkan dari Fir’aun dan tentaranya. Tanggal 1 Syawal dan 10-13 Dzul Hijjah juga umum dirayakan oleh ummat Islam tiap tahunnya.
Dalam JIVJS halaman 335, Ibnu Taymiyah menulis, “Sesungguhnya ‘id (hari besar) yang disyari’atkan itu meliputi ibadah yang tercakup di dalamnya, yakni: shalat, dzikir, sedekah atau penyembelihan hewan. Maka terpadulah di sana antara adat/kebiasaan seperti memberikan kelonggaran dalam makan minum dan berpakaian diiringi dengan meninggalkan pekerjaan wajib (misalnya larangan puasa pada ‘idain, hari tasyriq dan hari Jum’at secara sendiri -adm.), diperbolehkannya bersuka-ria dengan beraneka ragam permainan yang diperbolehkan di hari raya dan lain-lain… Dalam hari-hari raya, disyariatkan beberapa bentuk ibadah -wajib maupun sunnah- yang tidak disyariatkan pada hari-hari lain. Pada hari-hari raya itu juga diperbolehkan atau disunnahkan bahkan diwajibkan beberapa kebiasaan yang bisa menghibur perasaan yang tidak disyariatkan di hari-hari lain. Oleh sebab itu, dilarang untuk shaum pada ‘idain (Idul Fithri dan Idul Adh-ha). Dalam Idul Fithri dikaitkan dengan ibadah lain, yakni bersedekah (zakat fithroh). Sementara dalam Idul Adh-ha dikaitkan dengan ibadah penyembelihan (udh-hiyah). Keduanya berkaitan dengan makanan.”
Maka jelaslah bahwa melonggarkan dalam hal makanan dan minuman untuk merayakan hari istimewa merupakan hal yang dibolehkan, bahkan sunnah. Bahkan dianjurkan bagi ummat Islam untuk memasak daging setiap hari Jum’at.
Merayakan Maulid
Maulid telah dirayakan juga pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi. Di berbagai negeri, maulid telah dirayakan oleh mayoritas kaum Muslimin. Hingga datang suatu makhluq dari tempat timbulnya tanduk setan, Nejd. Lalu makhluq itu diikuti oleh minoritas kaum Muslimin yang menyempal dari Jama’ah yang hingga saat ini terus menimbulkan firqoh-firqoh baru yang lebih kecil.
Diantara mereka ada yang berkata, “Apakah nabi atau pun shahabat merayakan Maulidur Rasul?”
Maka kita jelaskan kepada mereka bahwa Nabi SAAW mengistimewakan hari lahirnya SAAW, sebagaimana beliau SAAW mengistimewakan hari diselamatkannya Nabi Musa as. Nabi berpuasa pada hari Senin sebagaimana Nabi berpuasa pada 10 Muharram, hari di mana Nabi Musa diselamatkan.
Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]
Maka merayakan dan bergembira atas lahirnya Rasul bukanlah perkara baru yang ditambah-tambahkan. Bahkan Allah menyuruh kita untuk bergembira atas karunia dari-Nya. Lahirnya Rasulullah adalah termasuk karunia terbesar bagi kita. Maka sunnahnya merayakan kelahiran Rasul tidak bisa dibantah hanya dengan perkataan ustadz-ustadz ekstrim. Agama kita bukanlah agama ‘qola ustadz’, tetapi ‘Qolallahu wa qolarrasul’. Dan tidak pernah Allah atau pun Rasul-Nya menyuruh kita untuk bersedih atas wafatnya Rasul kelak.
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [QS. Yunus: 58]
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiya: 107]
Mereka berkata, “Tetapi bentuknya berbeda dengan cara Nabi.”
Kita jelaskan kepada mereka bahwa tidak ada aturan khusus dalam hal ini. Sehingga bentuknya bebas, selama tidak mengandung kema’siatan. Dan acara perayaan maulid tidak terpaku pada tanggal 12 Rabi`ul Awwal. Bahkan di Masjid Al-Munawar Pancoran, Jakarta Selatan, pembacaan riwayat maulidur Rasul dilakukan setiap Senin malam tiap minggunya sepanjang tahun. Karena mereka begitu gembira atas kelahiran Nabiyur Rohmah SAAW.
Lalu tanyakan kepada mereka, “Apakah Nabi pernah membangun Masjid?” Tentu mereka membenarkan bahwa Nabi pernah membangun Masjid. Maka membangun Masjid dan merayakan maulidur Rasul adalah dua hal yang telah dilakukan Rasul.
Tanyakan lagi kepada mereka, “Apakah bentuk Masjid yang dibangun Rasul itu seperti yang umum dibangun saat ini?” Maka mereka akan mengatakan bahwa bentuk Masjid sekarang ini berbeda dengan bentuk Masjid di zaman Rasul.
Jelaskan kepada mereka bahwa perbedaan bentuk Masjid tersebut juga telah menyebabkan perbedaan dalam hal adab memasuki Masjid. Jika dahulu seseorang shalat dengan tetap mengenakan terompah, sekarang kita sholat dengan meletakkan terompah di luar Masjid seperti yang dilakukan Musa di lembah suci Thuwa. Lalu tanyakan kepada mereka, “Apakah membangun Masjid dengan bentuk yang sekarang dan melepaskan terompah di luar Masjid merupakan perbuatan bid’ah dholalah?” Jika mereka menjawab, “tidak,” maka jelaskan kepada mereka bahwa merayakan maulidur Rasul dengan bentuknya yang sekarang bukanlah bid’ah dholalah.
Sepertinya, tidak mungkin mereka menyatakan bahwa melepaskan terompah di luar Masjid itu bid’ah dholalah karena menyelisihi sunnah Rasul dan meniru Yahudi. Dan tidak mungkin mereka menyatakan bahwa membangun Masjid dengan bentuknya yang sekarang adalah bid’ah dholalah dengan alasan tidak dicontohkan Rasul, meniru adat/kebiasaan non-Muslim, dan menimbulkan bid’ah lainnya. Karena, jika mereka menyatakan demikian, katakan saja kepada mereka, “Mengapa kalian tidak mengenakan saja terompah kalian di dalam Masjid? Mengapa tidak kalian hancurkan saja kubah-kubah dan lantai-lantai marmer Masjid yang kalian klaim tasyabbuh kepada bangunan non-Muslim? Mengapa kalian tetap shalat di dalamnya, sedangkan menurut kalian Masjid-Masjid sekarang dibangun atas dasar bid’ah dan bukan atas dasar taqwa?”
Maka jelaslah bahwa merayakan maulidur Rasul dengan bentuk berkumpul di Masjid atau suatu tempat, dengan membaca shalawat, Al-Qur’an, Hadits, riwayat kelahiran Rasul SAAW bukanlah bid’ah dholalah. Berlonggar dalam hal makanan dan minuman pada perayaan Maulid bukanlah bid’ah dholalah. Menghadirinya bukanlah perbuatan bid’ah dholalah. Menabuh tabuhan dan berqoshidah/bernasyid dalam perayaan Maulid bukanlah bid’ah dholalah. Karena yang demikian itu adalah bentuk kegembiraan yang diperbolehkan dalam perayaan.
Tahlilan
Tahlilan yang kami maksud di sini tentulah perbuatan di mana orang-orang berkumpul di suatu tempat, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahlil, shalawat dan sebagainya yang kemudian pahalanya dihadiahkan bagi orang-orang yang sudah wafat.
Perbuatan mengirim hadiah pahala telah dicontohkan pada zaman Rasul, shahabat dan tabi’in. Mayoritas ulama sepakat atas kebolehannya dan sampainya. Ada pun bentuknya yang berbeda, tidaklah menjadikannya sebagai perbuatan bid’ah dholalah. Karena tidak ada larangan untuk berjama’ah dalam mengirim hadiah pahala ini, dan memang tetap sampai walau yang menghadiahkan itu bukan keluarganya.
MP3 Maulid Adh-Dhiyaul Lami’
Maulid Adh-Dhiya` Al-Lami
Kemasan Da’wah dan Ibadah
Ijtihad itu Bid’ah
Wallpaper Maulid Adh-Dhiyaul-Lami





Mei 31st, 2008 pukul 2:24 am
Sedangkan ummat nabi Muhammad boleh sholat di mana saja, namun ada tempat-tempat tertentu yang makruh bahkan haram shalat di situ. Dan Nabi telah shalat dengan mengenakan terompahnya. Sedangkan beliau adalah uswatun hasanah.
(menggunakan terompah itu -> solat khouf waktu perang , dalam keadaan perang atau darurat sebab takut disergap musuh, bukan dalam keadaan biasa[merdeka])…
bidah itu hanya 1 saja yaitu bidah dholala… kalau ada bidah hasanah, solat subuh nanti ditambahin aja 2 rokaat lagi gimana? itukan bidah kebaikan? apa dikerjakan juga seperti maulid dan tahlilan?
hehehehe Shalahuddin Al-Ayyubi bukan merayakan maulid tapi membangkitkan kaum muslimin mengukuti jejak rasul pada perang salib.
Tahlilan
Tahlilan yang kami maksud di sini tentulah perbuatan di mana orang-orang berkumpul di suatu tempat, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahlil, shalawat dan sebagainya yang kemudian pahalanya dihadiahkan bagi orang-orang yang sudah wafat.
Perbuatan mengirim hadiah pahala telah dicontohkan pada zaman Rasul, shahabat dan tabi’in. Mayoritas ulama sepakat atas kebolehannya dan sampainya. Ada pun bentuknya yang berbeda, tidaklah menjadikannya sebagai perbuatan bid’ah dholalah. Karena tidak ada larangan untuk berjama’ah dalam mengirim hadiah pahala ini, dan memang tetap sampai walau yang menghadiahkan itu bukan keluarganya.
(hehehe kata siapa?
rasul pernah bersabda dalam hadistnya apabila telah mati anak adam, maka putuslah seluruh amalnya kecuali 3 hal : 1. sedekah jariyah, 2. ilmu yang bermanfaat baginya, 3. anak yang sholeh, yang mendoakan kepadanya.)
Mei 31st, 2008 pukul 4:59 am
yasudah terserah anda.. saya hanya menyampaikan dari pertama selagi id saya jantan.. dari lembut sampai kasar (emosi).. kembali ke alquran dan sunnah.. kalau tidak terima tidak papa urusan dengan allah nantinya dan semua hidayah dari allah… bukan berarti semua dari allah dan anda tidak berusaha untuk dapatkan hidayah itu..
Mei 31st, 2008 pukul 5:02 am
dan saya bukan wahabi. maaf.
Mei 31st, 2008 pukul 9:17 am
Jurair bin Abdullah, bahwa Nabi SAAW bersabda:
“Barangsiapa yang mempelopori suatu sunnah/kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan beroleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengerjakannya setelah itu, tanpa kurang nilainya sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu kebiasaan yang buruk, maka ia akan menerima dosanya, berikut dosa dari orang-orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi beratnya sedikit pun.”
Isnadnya ?
Desember 4th, 2008 pukul 3:34 pm
“Barangsiapa yang mempelopori suatu sunnah/kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan beroleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengerjakannya setelah itu, tanpa kurang nilainya sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu kebiasaan yang buruk, maka ia akan menerima dosanya, berikut dosa dari orang-orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi beratnya sedikit pun.”
Riwayat di atas maksudnya untuk amalan mu’amalah, bukan ubudiyah, seperti mengajak membersihkan selokan, membuang duri/rintangan di jalan yang kalau diikuti oleh orang lain maka yang memberi contoh juga dapat pahalanya. Kalau untuk amalan ubudiyah, mana bisa begitu. Karena amalan ubudiyah harus dilandasi dalil yang shahih baik dari al-Quran ataupun as-Sunnah. Tahlilan merupakan amalan ubudiyah, jadi tidak boleh dikerjakan kalau tidak ada dalil yang shahih. Dan yang lebih penting lagi, dalilnya juga harus bersifat muqoyyadah, bukan sekedar muthlaqoh. Anda tidak menyertakan dalilnya sama sekali dan memang tidak ada dalilnya.
Januari 22nd, 2009 pukul 8:48 pm
Salam alaikum Tahukah wahai saudaraku,orang2 qurays(asal suku nabi)itu bukanlah orang-orang kafir,seperti selama ini kita anggap?,sesungguhnya mereka hanyalah golongan orang2 yng menyembah Allah tidak secara langsung,melainkan melalui perantaraan(washilah),dan perantara2 itu adalah berhala2 mereka(latta,mannat,uzza dll),dan tahukah anda bahwa latta,mannat,uzza dll itu dahulunya dalah orang2 shalih dizamannya?,dan tahukah anda sebagaimana Al-Qur’an menceritakan kepada kita bahwa “Apabila mereka ditanya,tentang siapa yng menciptakan alam semesta ini,mereka menjawab ALLAH!”?,itu artinya mereka(orang2 qurays) bukan tidak mengenal Allah!melainkan mereka mengenalNYA,tetapi apa jawaban mereka ketika ditanya mengapa dalam menyembah Allah mereka melalui perantaraan berhala2 itu,mereka menjawab”Hanyalah berhala2 ini mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya(Zulfa)”…..!jadi kesimpulannya mereka juga menyembah Allah! tapi pertanyaannya,kenapa terhadap perbuatan spt itu
Allah sampai2 menurunkan seorang utusannya (Muhammad SAW) untuk meluruskan,dan mengadakan perbaikan atas cara yang salah dalam menyembah Allah itu?,jelas jawabannya adalah “ALLAH tidak menghendaki cara2 yang salah dalam cara menyembah DIRINYA”,maka Allah utus seorang Nabi dan Rasul untuk memberi khobar bagaimana cara yng benar menurut ALLAH sendiri dlm menyembahNYA,maka Muhammad mencontohkannya(uswathun hasanah),di mulai dng Wudhu atau Mandi,Takbiratul ihram,iftitah,fatihah,ruku,sujud…..dst,lalu ditutup dng salam,itulah yng Allah mau! dalam menyembah dirinNYA,karena urusan “Cara Menyembah Allah”(Urusan yng Ghaib)itu hanya Allah-lah yng tahu bagaimana caranya,bukan manusia spt orang2 qurays itu!,maka Allah menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya contoh untuk kita ikuti terutama dalam hal menyangkut urusan “Taqorrob Ilallah”,mendekatkan diri kepada Allah(Ibadah Mahdoh),meskipun orang2 qurays itu tujuannya kepada Allah,tapi cara dan aturannya yang
tidak sesuai maunya Allah,maka terhadap perbuatan spt itu mereka di cap oleh Allah di dalam Al-qur’an sebagai kaum Musyrikin,orang2 yng menyembah Allah tetapi tidak sesuai dengan maunya Allah,meskipun menurut mereka itu BAIK! tetapi menurut Allah dan Rasulnya itu adalah “amal salah” bukan “amal sholeh”.
Kita kembali ke masalah tahlilan,tapi sebelumnya kita harus mengerti dulu apa yang di maksud dengan “Sunnah” dan “Bid’ah”.
Sunnah ialah:”Perbuatan,perkataan atau Takriir yang berasal dan ber-sumber dari Rasulullah(pengemban risalah/wahyu),terutama hal-hal yng menyangkut yng ada kaitannya dengan unsur “Taqorrub Ilallah”/ibadah mahdoh,Rasulullah bersabda:”maakaana minamri diinikum failayya,wamaa kaana minamri dunyakum,antum a’lamubihi”,”hal apa yng menyangkut urusan agama ini(islam) maka itu urusanku,manakala hal yng menyangku dunia kalian(muamalat),kalian lebih tahu dlm urusan itu”
Re-definisi Bid’ah
Bid’ah ialah:”Perbuatan yng mengandung unsur taqorrub-ilallah yang tidak ada dasar serta contoh dari Nabi ”
Kalau kita sudah fahami hal diatas,maka kita tinggal masukkan saja,pada kategori yng mana “tahlilan” itu,
Apakah tahlilan itu:
1.Mengandung unsur Taqorrub-Ilallah(pendekatan diri kpd Allah)?
2.Apakah ada urutan bacaan2 khusus (istighfar,fatihah,al-baqarah,yasin,dll)seperti halnya ibadah mahdoh yng lain?
3.Apakah ada kaitannya dengan sesuatu yng ghaib(kematian seseorang,peringatan rumah baru(ngusir setan),lahirnya seseorang spy jadi anak yng baik,,lulusnya seseorang jadi sarjana(ungkapan syukur kpd Allah),dll)?
4.Apakah hal ini berlangsung secara periodik sebagaimana halnya shalat,zakat fitrah,haji,puasa,yang ditentukan waktu-waktunya(1,2,3,4,5,6,7,40,100,1000 hari dst)?
5.Apakah “tidak ada” contoh zahir dari Rasulullah/shahabat tentang ritual perbuatannya?
Maka kalau memenuhi unsur2 diatas sudah cukuplah bagi kita untuk menyimpulkan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan Bid’atul Munkaro,sesuatu perbuatan yng menyangkut ke GHAIB-an yng tidak dicontohkan oleh Rasulullah.
Atau tahlilan itu tidak memenuhi unsur yng 5 diatas?tahlilan itu hanyalah perbuatan muamalat biasa seperti halnya jual-beli dengan orang yng bukan seagama dengan kita?,tentulah HALAL jika kita beli 1kg beras meskipun yng jual orang yng tidak seagama dng kita,karena hal spt ini tidak ada unsur2 diatas yng 5,kalaulah Tahlilan sama seperti itu maka Boleh-boleh saja!.kalau alasannya silaturrahmi kenapa kalau hanya ada kematian saja?,apakah kita ber-silaturrahmi hrs menunggu orang yng mati dulu?,lantas kenapa juga ada bacaan2 ritualnya?,kalau alasannya lebih baik baca qur’an ketimbang ngobrol,apakah begitu kita membandingkan Ayat2 Allah dengan ngobrol ngalor-ngidul?,apakah sebanding perkataan Allah dng obrolan manusia?,lantas bagaimana pendapat anda tentang “orang2 qurays” diatas,bukankah alasan mereka juga sama?bahkan mereka beralasan bahwa mereka hanya mengikuti “nenek-moyang” mereka,sebagaimana alasan anda dan yng sefaham dng anda,bahwa tahlilan itu tradisi(kebiasaan nenek-moyang) ! Begitu juga Maulid,tinggal masukkan saja pada kriteria di atas,jika memenuhi salah satu unsur diatas
Kalau anda bertanya tentang dalil dilarangnya tahlilan(pembuktian terbalik)!
saya akan bertanya kepada anda,apakah ada dalil tentang bagaimana hukumnya sholat di atas Pesawat Terbang,maka anda tidak akan menemukan dalilnya,yng ada adalah dalil sholat diatas kuda,karena di zaman itu memang belum ada pesawat terbang,tetapi urusan sholat sudah tuntas amsal serta contohnya,itu artinya sesuatu itu akan ada dalil manakala memungkinkan hal itu terjadi pada zaman nabi,serta memang ada perbuatannya.jika kita tidak mendapati dalil yng pas(klek) benar tentang perbuatan itu,maka kita bisa menyandarkannya pada yng paling dekat isi serta nafas dalilnya.
Kalau anda bertanya tentang Dalil dilarangnya tahlilan,maka saya akan kembali bertanya kpd anda,”apakah hal serupa tahlilan” dimungkinkan dilakukan oleh Nabi dan para shahabat pada zamannya apa tidak?,jawabannya jelas sangat memungkinkan,apa susahnya buat Nabi melakukan Yasinan,tahlilan dsb seperti halnya yng dilakukan anda dan nenek moyang anda itu,!Muhammad SAW itu pakarnya! tetapi kenapa tidak ada keterangan tentang perbuatan tahlilan ataupun larangan tentang tahlilan,jawabannya jelas sederhana…….!:”memang perbuatan ini TIDAK PERNAH ADA,baik di zaman Nabi ataupun para shahabat!”,bagaimana kita bisa ketemu dalilnya,wong perbuatannya saja tidak ada !,lantas kalau Nabi dan para shahabt tidak pernah melakukannya,kenapa kita melakukannya?,bahkan sampai tidur-ngorok Rasulullah saja ada keterangannya,apalagi hal seperti tahlilan,tidaklah mungkin tidak ada satu riwayat hadits-pun yng menerangkan tentang perbuatan ini,bahkan yng paling dhaif-pun saya tak menemukannya,makanya saya bilang pada email sy dahulu,kalaulah ini menjadi fatwa anda bahwa tahlilan itu sesuai sunnah,sunnah yng mana?,pada shahih siapa,bab mengenai apa?,sekarang begini saja deh saya hanya ingin dengar sumpah anda di hadapan Allah,dihadapan para milist,bahwa perbuatan ini bisa dipertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah oleh anda,dikarenakan menyangkut ada unsur “taqorrub”nya,kalau anda berani bersumpah DEMI
ALLAH,BAHWA TAHLILAN ITU SUNNAHNYA,maka saya akan mengikuti anda sbg yng pertama !
Kalau saya berfatwa:
“Karena masalah tahlilan adalah masalah Ghaib,juga mengandung unsur taqorrub kepada Allah,hanya Allah dan Rasulnya saja yng bisa menunjuki kita dengan keterangan yng shahih,maka ketika tidak ada contoh yng konkrit dari Rasulullah melalui dalil2 yng shahih,lebih aman kita tinggalkan saja…!
Saya berani bersumpah DEMI ALLAH,di hadapan Allah sekarang,juga disaksikan anda dan para milist,tinggalkan perbuatan tahlilan yng Bid’ah itu,aku akan menanggung dosa anda di akherat kelak apabila tahlilan itu adalah perintah Allah/rasulnya yng sengaja anda tinggalkan dikarenakan jaminan saya ini! Berani gak anda saya tantang seperti itu?
Semua ini saya sampaikan karena rasa sayang saya kepada siapapun yng mengaku “LAAILAAHAILLAH MUHAMMADURRASULULLAH”
bahkan sampai tidur-ngorok Rasulullah saja ada keterangannya,apalagi hal seperti tahlilan/acara maulid(seperti yng anda lakukan sekarang bukan puasa hari senin lo!),tidaklah mungkin tidak ada satu riwayat hadits-pun yng menerangkan tentang perbuatan ini,bahkan yng paling dhaif sekalipun saya tak menemukannya.
Yang dimaksud pada argumen anda adalah satu perbuatan yng memang sangat tidak memungkinkan dilakukan di jaman Nabi,semisal shalat di atas pesawat terbang itu,sebab pada zaman Nabi memang pesawat terbang belum ada,memakai sarung cap gajah ketika sholat,ber-wudhu dengan menggunakan pompa air listrik,pergi wukuf dengan menaiki mobil bus,menggunakan speaker ketika ber-khutbah,adzan dengan menggunakan pengeras suara,makan pakai sendok,buka puasa/sholat dengan acuan jam,pergi sholat jum’at naik mercedes,dll yng seperti itu.
Pertanyaan saya,hal2 seperti diatas apakah mungkin dilakukan pada zaman nabi?jelas tidak mungkin.! dikarenakan mesin jet saja baru ditemukan sekitar thn 1946,mesin tenun kain baru pada abad 18,pompa sanyo baru ada sekitar 1970,pengeras suara baru pada th 1910,mercedes th 1800,bagaimana bisa anda katakan sebagai sesuatu yng TIDAK DILAKUKAN NABI sementara ketika beliau hidup,hal2 diatas belumlah exist.
Yang dimaksudkan Bid’ah pada hadits “wasyarrul umuuri al muhdatsa tuhaa,wakulla muhdatsatin bid’ah” adalah hal-hal yng berkaitan dengan sesuatu perbuatan yng mengandung unsur pendekatan diri kepada Allah(taqorrub),yang di dalamnya ada kegiatan pengucapan kalimatun thoyyibah atau bacaan al-qur’an,lebih-lebih ujung akhirnya berkaitan dengan sesuatu yng ghaib(berhubungan mayyit),apakah hal serupa ini TIDAK MUNGKIN atau AMAT SANGAT MUNGKIN dilakukan oleh Nabi dan para shahabatnya,atau kita lebih jago dalam hal itu ketimbang kanjeng Nabi?apakah hal tersebut(tahlilan) sesuatu yng seperti Pesawat terbang,pompa sanyo atau mercedes benz?jawabannya adalah:”Bagi Nabi ritual tahlilan spt itu,amatlah sangat mudah,sebab Dia adalah Rasulullah,pasti jika beliau melakukan hal seperti itu,paling2 ada wahyu yang menganjurkan atau melarangnya,tetapi……apakah ada perbuatan itu?apakah ada dalil yng menganjurkan,atau melarang? jelas tidak ada! dikarenakan perbuatan itu memang tidak ada..!padahal hal spt itu AMAT SANGAT MUNGKIN,dilakukan beliau untuk kirim2 pahala kpd istri tercinta beliau,sahabat2 beliau,malah yng datang adalah sebuah hadits tentang “izaa maata ibnu adam”,”apabila mati seorang anak adam,maka terputuslah semuanya dengan urusan dunia,kecuali 3,amal jariyah(ketika mayyit masih hidup),ilmu yng bermanfaat(ketika mayyit masih hidup mengajar)dan anak yang dia didik menjadi anak yng sholeh,yng dng kesholehannya itu dia ber-doa atasnya dengan menjalankan sholat,zakat,puasa,haji,dll yng dicontohkan Nabi.
Namun….hadits diatas dilemahkan oleh ayat al-qur’an sendiri pada surat yasin:”falyauma laa tuzlamunnafsuun syaiawwala tuzzauna illa maa kuntum ta’maluun”,”pada hari(akherat)ini Allah tidak akan mencurangi kalian,Allah akan membalasi melainkan atas apa-apa yng kalian kerjakan selagi di dunia” atau pada surat Al-zalzalah:”famayya’mal mitsqoolazarratin khairoyyaroh,wamayya’mal mitsqoolazarratin syarroyyaroh”,”barang siapa yng melakukan amal sholeh walau sebesar biji zarrah sekalipun dia akan menuainya,begitu juga barang siapa yng melakukan amal sesat walau sebesar zarrah sekalipun,dia akan menuainya”.
Dari keterangan diatas,sudahlah terang bagi kita,bahwa islam tidak mengenal kirim2 pahala,sebagaimana pada agama nasrani yng ditebus dosanya oleh yesus jika mengimaninya,di dalam islam tidak mengenal konsep spt itu,islam adalah sebuah agama yng gentlemen,orang bertanggung jawab atas apa yng dia kerjakan,dia akan mendapati dari apa yng dia lakukan selagi hidup,bukan mendapat kiriman pahala dari TAHLILAN yng diselenggarakan oleh anaknya(ngaku anak yng sholeh) sementara sholat shubuh saja bangunnya telat terus.
Kita memang disuruh ber-do’a kepada Allah,apa saja! termasuk untuk orang tua kita yng masih hdp atau yng sudah meninggal,namun…..,fakta dilapangan yng terjadi lain…,yng terjadi adalah KIRIM PAHALA ! atas pahala al-fateha,al-baqarah,yasin,tasbih,tahmid dll yng kami bacakan ini,pahalanya kami hadiahkan kepada:khususan liruhi ummi/abbi…………..,sech Abdul qodir jaelani,para wali songo,guru2 dll.
Kalau anda datang ke bank,ingin mengajukan kredit rumah,kira2 uang siapa yng kita mau pakai buat rumah tersebut,berarti kita mengajukan permohonan kredit bukan?kira2 dikasih gak oleh bank? yng jelas itu terserah bank,jika menurut bank kita memiliki kredibilitas dan baik,sudah pasti kita dapat kredit,tapi kalau performance kita buruk(black list) sudah barang tentu kredit kita ditolak,dikarenakan memang itu hak prerogratif bank! dan bukan uang kita,kita hanya memohon dengan prosedur yng benar,hasilnya bank yng menentukan.
Hal ini sama dengan kita ber-do’a bukan,dikabulkan atau tidaknya hal itu terserah Allah,meski caranya sudah sesuai contoh Nabi,tetapi tetap saja hal itu adalah hak Allah untuk mengabulkan atau menolaknya,lebih2 caranya yng tidak sesuai contoh Nabi,kira2 diterima gak ya?
Kalau anda datang ke bank,anda bilang mau kirim(transfer) uang ke seseorang,kira2 uang yng anda transfer itu uang siapa ya? uang anda atau uang bank? sudah jelas uang anda bukan!,lantas siapa yng anda suruh-suruh untuk mentransfernya? bank atau anda sendiri?,jawabannya jelas ya bank yng kita suruh2 dan bank dapet fee dari itu.
Kalau anda kirim2 pahala kepada seseorang yng sudah mati,itu pahala siapa ya?pahala anda atau pahala si mayyit?,lantas siapa yng anda suruh2 untuk mengirimnya ke alam baqa(akherat) itu?,Allah,Malaikat,Nabi atau Jin?,apa pantas kita menyuruh2 Allah? dan lagi memangnya anda sudah kelebihan pahala? sampe di transfer2 gitu !
Subhanallah ! maha suci Allah dari apa yng kita persangkakan atas kebodohan kita,semoga Allah selalu menunjuki kita atas jalanNya yng lurus,jalan mereka yng telah Allah beri nikmat,bukan jalan orang2 yng telah Allah murkai,lebih2 yng Allah telah sesatkan.
maka:”sebenar-benarnya perkataan adalah kitab Allah,sebaik2nya petunjuk adalah petunjuk Muhammad,seburuk2nya perbuatan adalah yng mengada2 dlm urusan agama,dan yng mengada2 itu adalah perbuatan bid’ah(menghias),dan yng bid’ah itu sesat,dan yng sesat itu tempatnya dineraka”
saudaraku mufti menulis:
jika ada amal ibadah yang tidak dituntunkan oleh kanjeng Nabi, kemudian dikerjakan itu tidak apa-apa.
Pertanyaan saya: itu teory dari mana,jika anda sudah berani menentukan sesuatu perbuatan yng menyangkut ibadah dan anda katakan tidak apa2(boleh) memangnya kita siapa,apakah islam ini belum sempurna dalam hal ibadah? apakah ada cara ibadah agama lain atau suku tertentu yang lebih sempurna dari apa yng di contohkan uswatun hasanah(Nabi)?,atau ada nabi baru di tanah Jawa ini? sehingga memberikan cara beribadah yng baru yng lebih perfect?
Kalau di dalam beribadah kepada Allah berlaku suatu hukum”asal suatu perbuatan itu dilarang,kecuali ada dalil yng memalingkannya(memerintahkannya)”,dalil itu bisa ayat,bisa juga hadits!,apakah ada dalil anda temukan untuk tahlilan ini?,Rasul hanya mencontohkan berkaitan dengan mayyit itu:Memandikan,Mengkafani,Menyolatkan dan Menguburkan,apakah ada tuntunan lain selain itu? tolong beritahu saya pada hadits yng mana? dan pada kitab apa?
Sesungguhnya hal seperti tahlilan adalah laksana benalu,yng tumbuh di pohon islam,yng pada gilirannya akan mengganti daun pohon aslinya dengan daun2 benalu,yang sepintas sama hijaunya,yng orang awam menganggap itu daun aslinya,yng suatu saat pohon itu akan mati karena keropos akarnya,tahlilan akan menggantikan cara2 dan contoh rasulullah,yng sepintas islami padahal dia bukan dari islam dikarenakan ada bacaan2 yng bersumber dari islam,yang pada gilirannya akan menumbangkan nilai2 islami yng sejati digantikan oleh nilai2 yng bersumber dari budaya dan agama lain,faktanya orang lebih suka datang dan mengadakan tahlilan ketimbang melaksanakan perintah2 Allah yng wajib,mereka menyebut nama allah hanya ketika ada yng mati saja,hanya jika ada makanan saja,mereka tidak patuh pada aturan allah dan rasulnya dalam kehidupan keseharian mereka,wal-hasil ujung-ujungnya hanyalah kesesatan yng mereka dapati,sementara dalam kehidupan mereka tidak jujur(curang dalam timbangan,suka mencuri hak orang lain,serobot tanah orang,menguasai warisan,menipu orang,gila jabatan,gila harta,ber-zinah,melacur,pemabuk,suka makan hak anak yatim,dan disempurnakan dengan percaya kepada takhayul,perdukunan,bertapa,datang ke kubur serta hal2 yng dibenci oleh Allah dan Rasulnya),mereka menganggap bahwa islam(pahala) bisa dibeli dengan mengadakan acara semacam TAHLILAN !
Semoga Allah melindungi kita dari para penyesat2 agama islam yng sdh sempurna ini !
Gue tantang penulis artikel diatas untuk bersumpah atas nama Allah,seperti gue bersumpah di atas,kalau tidak berani berarti kalian pengecut,penipu dan penyesat,ketahuilah tidak ada yng luput dari pandangan Allah,termasuk sumpah gue ini,hayoooo…! berani kasih garansi seperti gue? atau kalian istighfar atas keyakinan yng salah dan tidak sholeh ini,kalau kalian berani bersumpah…! itu baru jantan dihadapan Allah dan manusia yng lain,kalau diam aja,berarti benarlah dugaan ku,bahwasanya kalian hanyalah beraninya cuma ngejorokin orang doang! tanggung jawab enggak berani,alias pengecut….!banci…!lebih parah dari yahudi!,kenapa lebih parah? sebab yahudi itu jelas2 nyerang umat islam,tapi kalian….,kalian menyerang islam seperti tulang ikan yng mengganjal di tenggorokan,awalnya enak dikunyah,tidak terasa,kemudian menusuk lalu mematikan!
Januari 22nd, 2009 pukul 9:02 pm
Ngaku2 Majelis Rasulullah lagi……rasulullah sudah wafat tau..!,makanya jangan terlalu PD gitu,baru bisa bahasa arab dikit aja,udah klaim majelis Rasulullah,Rasulullah yang mana?…rasulullah itu sudah wafat 14 abad yang lalu..! apa mentang2 turunan arab? lalu klaim turunan Nabi? “Innasyaa niaka huwal abtar”,begitu Allah menerangkan di qur’an,Nabi itu adalah orang yng terputus Nasabnya tau!,
jangan kegilaan gitu deh…!mentang2 idungnya mancung apa? mungkin saja ada nasab ke darah bani hasyim,tapi…,begitu di urut-urut terus nyampenya kepada ABU JAHAL…!,sebab kalau ke Nasab nabi terputus..! kasian deh lu..! bakalan sesat didunia sesat di akherat lu..!
Istigfar…!istighfar…! istighfar…!cepetan sebelum dicabut nyawanya…! atau nyawa sudah ditenggorokan….!mumpung ada yng ngingetin….!
Makanya kalau berbuat,cari dulu dalilnya,jangan berbuat dulu baru cari dalil,jadinya ya kayak gitu…….!pasti mencari pembenaran,terus aja dicari-cari pembenarannya,dicari dalil2 yng enggak nyambung terus dipaksa-paksain masuk…! dasar kalau orang sudah mabuk,ya kayak gitu..!
Januari 23rd, 2009 pukul 8:34 pm
Salam bagi semua !
Penulis yng meyakinkan bahwasanya Tahlilan itu boleh!,saya ini adalah orang yng baru masuk kedalam petunjuk islam,di dalam agama sy dahulu,ada hal yng selalu menggelitik saya,bahwa Tuhan saya dahulu,disalib untuk menebus dosa2 kami yng percaya,juga termasuk dosa2 orang2 sebelum Dia lahir,melihat penjelasan2 para pakar(spt anda)kenapa timbul pertanyaan besar bagi saya lagi,sehingga saya berkesimpulan bahwasanya islam(menurut apa yng saya baca dari tulisan anda)tidak ada bedanya dengan agama saya yng dahulu,yang bisa menebus dosa orang2 sebelum dan sesudahnya,namun kali ini bentuknya saja yng berbeda,bukan penebusan,melainkan PENGIRIMAN PAHALA dari kegiatan yng namanya TAHLILAN itu,pada prinsipnya apalah beda antara PENEBUSAN DOSA dengan PENGIRIMAN PAHALA?,apakah anda memahami 2 hal diatas sebagai sesuatu yng berbeda?,dahulu saya masuk kedalam logika islam yng menurut saya sangat logik dimana “orang akan bertanggung jawab atas dirinya masing2? dan tidak adanya dosa turunan,sekarang dengan melihat tulisan anda,menimbulkan pertanyaan yng besar bagi saya,apakah cara saya memahami islam yng salah,atau anda sekalian yng lebih dahulu jadi orang islam,yng memang masih dilumuri oleh pemahaman yng salah itu?,karena hal yng perlu anda ketahui adalah di dalam agama saya dahulu,sebuah aturan(kaifiyat) dalam satu hal yng ber-nuansa ibadah(penyanjungan,gerakan2 tubuh tujuannya kepada Tuhan)semua dilakukan atas maunya dan enaknya kita,kita tidak pernah diajarkan pola pensucian tubuh sebagaimana islam mencontohkan ketika hendak sholat dengan berwudhu,lalu bacaan2 memulai sholat,bacaan2 di dalam sholat,bacaan2 setelah sholat,semua dicontohkan oleh keterangan2 yng jelas yng bersumber dari nabi,kalau saya membaca tulisan2 anda,saya melihat islam yng anda fahami,tidak lebih dari kami memahami agama kami dahulu,dimana dosa bisa ditebus(pahala bisa dikirim) dan beribadah kpd Tuhan tanpa petunjuk pelaksanaan yng jelas dari nabi.
Namun,sebagai orang yng berasal dari agama lain dahulu,saya sangat menghargai apa yng anda tulis dan juga apa yng anda fahami,dalam kaitan ini,karena saya adalah orang yng awam didalam memahami islam selain saya minta petunjuk Tuhan melalui anda,saya juga akan meminta WARRANTY(jaminan) dari anda,bahwa apa yng anda tulis itu,anda mau bertanggung-jawab di akherat kelak,atas kebenarannya dan kebolehannya!,sekali lagi ya saya ulang KEBOLEHANNYA,sebab yng saya tahu kalau boleh itu kan artinya sunah, saya minta jaminan itu,sukur2 anda berani memberi jaminan tsb,dan pasti saya akan menjalani spt apa yng anda semua fahami dan lakukan.
Sekarang namaku sudah berganti menjadi faturahman.
Oh ya,jangan lupa statement jaminan anda itu! saya tunggu!,kalau anda tidak berani memberi warranty itu,saya berteory di dalam fikiran saya,bahwasanya anda hanya berani nulis saja,tetapi setahu saya tentang Tuhan saya yng sekarang ini(Allah),tidak ada yng luput dari pandangannya sekecil apapun jua.
Jadi anda juga jangan berbelit-belit,saudara koko juga meminta hal yng sama seperti saya,tapi,saya salut sama saudara koko,yng berani bertanggung jawab di akherat kelak,jika perbuatan tahlilan itu kita tinggalkan,maksud saya anda berani tidak spt sdr koko itu?,sebab dari bebarapa komentar anda kpd sdr koko,terlihat oleh saya bahwasanya anda ingin lari dari tanggung jawab dari apa yng anda tulis,tuntutan sdr koko sangatlah to the point,kalau menurut saya,jadi sekarang ini,kita butuh seorang yng ber-fatwa tentang suatu hukum,selain itu dia juga ber-ikrar dihadapan Allah akan bertanggung jawab di akherat kelak,jika tulisan anda disertai ikrar seperti yng sdr koko lakukan,saya yakin semua akan lebih percaya akan tulisan anda itu.
Cuma ya memang,sepertinya sdr koko adalah orang yng temperamen bgt,tapi aku bisa ngerti jalan fikiran sdr koko,intinya dia minta kepastian juga,dari sebuah testamen hukum,sebagaimana yng anda tulis!
Kita butuh seorang spt sdr koko,yng berani tanggung jawab dunia/akherat,saluuuut !
Salam
Bernardus Beng alias Faturahman
Januari 24th, 2009 pukul 10:59 pm
Hei! maksud saudara beng itu,apa beda antara penebusan dosa dengan kirim pahala,apa beda antara anda punya hutang di bank lalu bank nagih kpd anda,kemudian ada orang yng bayarin langsung ke bank bersangkutan atas nama anda(tebus) dengan ada orang yng kasih duit ke anda sejumlah uang untuk bayar utang anda tsb melalui tangan anda ! ya podo wae…….!
Makanya pake dong logika yng pas dalam memahami sesuatu aturan,jangan pake emosi! kalau berbuat dulu baru cari dalil,ya memang begitu itu..!terkadang di sayang aja nggak ngerti! mirip spt anak kecil yng lagi senang permen,udah tau lagi batuk malah merengek maksa juga,padahal ortunya kan sayang untuk tidak ngeracunin anaknya,tapi dasar anak-anak emang susah dicaram!.
ya udah, lakumdiinukum waliyadiin aja deh !
ingat sekali lagi dan terakhir aku ingatkan,dalil2 yng anda gunakan itu essensinya bertentangan dengan ayat:
1. “fal-yaumaa laa tuzlamunnafsun syaiawwala tuzzauna illa maa kuntum ta’maluun”
2.”yauma laatamlikunnafsun linafsinn syaia’ wal amru yaumaizillillah”
3.”famayya’mal mitsqoolazarrotin khoiroyyaroh,wamayya’malmitsqoolazarrotin syarroyyaroh”
dan banyak lagi ayat yng senada dengan “bahwasanya pahala tidak bisa di transfer”,karena jika seseorang sudah mati,maka dia sudah masuk ke alam akhirat.
Belum lagi ada ayat yng berbunyi:
“ud’uu robbakum tadorru’an wakhufyatan innahu laa yuhibbul mu’tadiin…”
Bagaimana bisa tadorru’ dan khufyah,zikirnya aja kadang2 di tengah lapangan,masuk TV dll cara yng cenderung mau dilihat/di expose manusia lain,ujung2nya masuk pd kelompok al-mu’tadiin yng Allah sangat membencinya,makanya kalau perbuatan yng Allah benci tetapi merasa permohonannya di kabulkan,kemungkinan besar yng membantu cita2nya tercapai itu siapa lagi? kalau bukan yng satunya lagi selain Allah,yng suka bikin ngawur manusia di dalam menyembah Allah !
Januari 26th, 2009 pukul 3:36 pm
“”"”"”mau baca Fatihah aja kok keras2, udah gitu amin berjama’ah lagi, emangnya kamu menyeru yg tuli? ) jangan adzan keras2 di Masjid… (mau membaca Allahu Akbar kok pake teriak2, pake speaker lagi )”"”"”"”
Makanya sejauh perbuatan itu ada contoh zahirnya dari Nabi dan para sahabat,silahkan saja,baca alfateha kenceng,memang ada contohnya pada shalat zahar,baca aaamiiin kenceng,juga ada contohnya,adzan di keraskan memang ada contoh dan hal itu semua mutawatir….!
Sejauh hal itu ada contoh…….sah-sah saja bukan! meskipun orang beranggapan itu riya,itu urusan lain…seperti sholat berjamaah ke mesjid,terlepas dihati ada unsur riya,selama nabi nyontohinnya berjamaah ke mesjid….ya memang harus ke mesjid,nah kalau kalian zikir dan tahlilan,mana contoh zahirnya,bukan masalah dalil kirim pahalanya(isi acara) yng juga lemah(dhaif)terhadap ayat,tetapi yng menjadi focus adalah pembungkus acaranya itu lo !,jadi bukan masalah isi dari tahlilannya(zikir) yng menjadi titik singgungnya,tetapi cangkang/kemasannya,sebagaimana perbuatan sholat,baca alfatiha,adzan yng anda maksudkan,karena isinya semua itu ya zikir,emangnya isi sholat,al-fateha,adzan itu apa? kecuali zikir semua!,tetapi kemasan/cangkang/pembungkusnya,semua ada contoh….tau! nah,kalau kalian zikir akbar,tahlilan dll itu,contoh zahirnya mana….?
Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]
yang dimaksud kaum muda yng lemah akalnya pada hadits ini,kemungkinan besar ya kalian itu,yang ngaku2 Majelis Rasulullah,majelis rasulullah?,yang membaca qur’an tidak lebih dari kerongkongannya,yng membaca ayat2 Allah baik tasbih,tahmid,tahlil untuk didengar pujiannya dari manusia lain,agar dibilang “paling” islam,masuk televisi,di pamer2 di antara manusia lain,selayaknya agama lain dalam memuji Tuhannya,di tengah lapangan bola yang banyak tai kucingnya,bisa ngusir setan,dll…emangnya ayat2 Allah/islam spesialis ngusir setan apa? di tanggap sama para pembesar negeri buat melakukan zikir negara! emang ada zikir spt itu di jaman Nabi?
Hal yng tidak pernah/sama sekali dicontohkan Nabi,tapi kali ini di klaim sebagai perbuatan Nabi,pertanyaannya….! jadi sekarang siapa yng keluar dari agamanya,seperti anak panah,dan akan mendapat pahala jika membunuhnya?
Siapa yng menganggap agama ini belum sempurna dengan segala yng nabi contohkan? siapa yng menganggap ada cara terbaru didalam ber-zikir kepada Allah,siapa yng menganggap cara orang hindu(tahlilan) itu lebih baik dari apa yng Nabi contohkan,siapa itu…………?
Apakah hal yng aku sebutkan itu,kami yng melakukannya atau kalian……….?
Di dalam islam yng gue fahamin,membela diri itu wajib hukumnya jika terancam,kalo darah gue itu halal buat kalian,apa itu artinya kalian mengancam gue?
Januari 27th, 2009 pukul 9:36 am
“”"”"”"”"”"takbiran berjamaah di Masjid, talbiyah dengan mengangkat suara di Masjidil Haram, tetapi sekarang dia mengingkari dzikir berjama’ah?”"”"”"”"”"
Talbiyah kan sudah mutawatir contohnya,sedang takbiran,baca saja keterangan pada kitab2 hadits bagaimana Rasulullah dlm menyambut 2 id,kapan,bagaimana,kan ada keterangannya,itu artinya berkenaan dengan suatu bacaan(termasuk bacaan masuk mesjid,masuk wc,mau ber jima’ dng istri dll) atau bacaan/perbuatan berkenaan dengan suatu kejadian(takbiran,talbiyah,gerhana,mandi junub dll)juga ada contohnya !
Okelah! anggaplah gue bisa terima mengenai “kirim pahala”,sekarang gue minta contoh perbuatan “tahlilan dan zikir dilapangan” yng bersumber dari Rasulullah,contoh perbuatannya lo ! bukan isi dari perbuatannya(zikir,tahlil,tahmid,dll) sebagaimana Nabi melakukan zikir pada saat gerhana terjadi(sholat gerhana),berikan keterangannya dong…! ayo….! cari….!dikitab apa?
Januari 27th, 2009 pukul 1:14 pm
Hai, KOKO,
JANGANLAH KAMU MENGHINA MEJELIS RASULOLLAH, disitu bergabung orang-rang ta’at beribadah,keturunan-keturunan Rasullullah,memahami islam sampai dalam,setahu saya golongan yang selama ini mengecam Bid’ah itu telah mengkaburkan makna islam itu sendiri,ilmu baru dikit bilang orang lain bid’ah,seperti anda ini lah orangnnya.
to admid teruslah berda’wah,semoga Alloh berserta orang-orang yang benar.
Januari 27th, 2009 pukul 11:39 pm
Oke,kalau kalian kasih contoh masalah penulisan Al-qur’an ke CD,pertanyaannya,penulisan al-qur’an bukan tidak terjadi di jaman nabi,memang pada zaman itu tidak memungkinkan dilakukan hal itu,dikarenakan belum adanya peralatan tulis yng memadai,pada sejarah pengumpulan mushaf al-qur’an,bahkan semua dikumpulkan yng berhasil dihafal oleh para sahabat yng hafidz,termasuk yng tertera/tertulis di daun2 kurma,bahkan penulisan huruf arab yng sekarang saja adalah hasil penyempurnaan ratusan tahun kemudian dng memberi tanda baca(bukan arab botak),masalah penulisan al-qur’an jelas bukan masalah ibadah(spt sholat,zakat,zikir setelah sholat,tahlilan dll) tetapi usaha manusia agar lafadz al-qur’an tidak hilang,mungkin jika pada zaman Nabi sudah ada komputer dan kamera,saya rasa bukan tidak mungkin sekarang kita bisa lihat foto Nabi,jadi masalah penulisan al-quran baik itu dalam tulisan cetak atau CD,jelas itu bukan satu perbuatan yng menyangkut ibadah yng dimaksud tetapi lebih kepada “maslahatun mursalah”,sebagaimana anda pergi haji naik pesawat terbang,mahdohnya ya “watuhijjul baita” sedang naik pesawatnya hanyalah cara untuk kesana,walaupun itu menunjang ibadah tetapi haji itu dimulai bisa dari bir ali atau tempat yng lainnya.
“auzid a’laihi warottilillqur’aana tartiila”,itu perintah baca qur’an,bahwa kita membacanya dari CD atau komputer atau tulisan tinta,itu hanya cara kita dalam melihat barisan2 ayat.
Jadi qiyas yang anda maksud terlalu ngawur jika dibelokkan kesana,qiyas di dalam islam itu memang ada,semisal: nabi tidak pernah mencontohkan zakat fitrah dng beras,tapi para ulama sepakat mengganti dengan makanan pokok masyarakat setempat,inti perintahnya adalah zakat !
Kan saya bilang,ok saya bisa terima alasannya,saya cuma tanya ada gak contoh perbuatan tsb dari nabi,padahal hal spt itu AMAT SANGAT MUNGKIN dilakukan oleh Nabi dan para sahabat,yang paling daif lah ok gak apa-apa! dalil bahwa Nabi/sahabat pernah melakukan tahlilan/zikir ditengah lapangan(sebab setahu saya di jaman Nabi juga banyak yng meninggal,dijaman Nabi juga banyak lapangan)!masa sih sama sekali gak ada keterangan!,dan setahu saya juga dijaman nabi belum ada CD/komputer,jangankan komputer,kertas aja baru ditemukan pada abad 14.
OK,saya minta contohnya ya! yng paling daif gak apa-apa !
Januari 30th, 2009 pukul 8:15 am
12 iwan m on 27 Januari, 2009 said:
Hai, KOKO,
JANGANLAH KAMU MENGHINA MEJELIS RASULOLLAH, disitu bergabung orang-rang ta’at beribadah,keturunan-keturunan Rasullullah,memahami islam sampai dalam,setahu saya golongan yang selama ini mengecam Bid’ah itu telah mengkaburkan makna islam itu sendiri,ilmu baru dikit bilang orang lain bid’ah,seperti anda ini lah orangnnya.
to admid teruslah berda’wah,semoga Alloh berserta orang-orang yang benar.
ha,ha.ha…….! keturunan Nabi…! Nabi itu adalah orang yng terputus nasabnya tau…!lihat surat al-kautsar ayat terakhir..!jelas2 Allah berfirman ! buka al-qur’an….! elo percaya sama al-qur’an(laa roybafiiih,hudallillmuttaqiiin) atau elo percaya sama Arab Hadramaut yng ngaku-naku se-nasab dengan Nabi..! hati2 bung…jangankan ngaku2 keturunan Nabi,yng ngaku2 jadi Nabi aja banyak..!maka peganglah 2 sumber yng pasti kebenarannya,al-qur’an dan hadits yng shahih..! jangan yng abu2 gitu…!
Makanya mereka itu ingin menyesatkan yng lain dengn mengatakan sunnah jadi wajib,wajib jadi sunnah,haram jadi makruh,bid’ah jadi sunnah dll,pemutarbalikkan fakta/hukum…!
Hati2 Dajjal sudah turun….!
Januari 31st, 2009 pukul 4:12 pm
Gue tanya sama elo! kalau masih ada keturunan Nabi,dari anak laki2 yng mana? bukankah anak laki2 Nabi sudah wafat semua,sebelum mereka menikah? kalaupun ada,itu dari anak rasulullah yng wanita,perlu elo fahami dengan benar,bahwa islam itu tidak menganut pertalian nasab dari anak perempuan tau ! anak itu adalah bibit laki2,bukan bibit perempuan(perempuan hanya membesarkan bibit,mereka laksana ladang,seperti tanah,yng ditumbuhi pohon sesuai bibitnya),kalau Nabi masih memiliki Nasab,seperti yng elo bilang,ayo sebutkan dari anak laki2 yng mana…….?,kan sekarang terbukti kalo yng maksain dalil itu siapa ! dasar kegilaan keturunan nabi lu ya ? yng wajib itu kita mengikuti sunnah Nabi,nah lawannya sunnah Nabi itu,ya perbuatan Bid’ah itu…..!
Islam itu menganut sistem Nasab laki2…..!
Makanya gue bilang,kalo ada orang yng ngaku2 keturunan Nabi sekarang ini,bisa2 saja ! terus aja usut nasabnya,paling2 nanti ketemunya ke Ali bin Abu Thalib,atau sangat mungkin sampai ke Ikrimah terus kalau diusut terus nyampenya ke ABU JAHAL ………!(si biang kerok ahlul Bid’ah itu),mana mungkin sampe ke Nabi…..! ngimpi kaleee………!
Februari 1st, 2009 pukul 9:55 am
“”"”Perkataan jahat dari bibit yg jahat. Lisanmu sungguh tajam dan menyayat hati Sang Nabi dan para pecintanya. Engkau katakan bahwa Nabi itu abtar, maka Allah pun menjawabmu, “Sesungguhnya yang membencimu, wahai Muhammad, dialah yang abtar.””"”
Kan gue bilang sama elo,Islam itu menganut Nasab ayah,sekarang ini bukannya gue menolak hadits yng elo bawain,tetapi hadits tsb,jelas2 bertentangan dng konsep islam itu sendiri tau ! elo mau pilih yng mana Sunnatullah atau Sunnah Rasul(itu juga bukan riwayat al-buchory),jadi yng jahat itu siapa? Nabi tidak punya anak laki2 aja,banyak yng ngaku2 keturunnya(paling2 arab hadramaut,si pembawa bid’ah dari negeri yaman),emangnya apa sih lebihnya keturunan arab yng elo maksud?”inna akromakum indallahi atkookum”,itu ayat tau!,tidak ada kelebihan seseorang karena suku atau garis keturunannya,yng membedakan itu ketaqwaannya,emangnya elo punya dalil untuk melawan ayat ini? emangnya ada dalil yng menguatkan kebanggaan elo sebagai turunan arab?
Makanya gue bilang ! semua yng elo tulis pada hakikatnya mencari pembenaran,bukan mencari dalil yng kuat,yng shahih,yng sejalan dengan al-qur’an(apalah kekuatan sebuah hadits jika hal itu bertentangan dengan al-qur’an,karena hanya al-qur’an yng mendapat garansi dari Allah langsung,”innanahnu nazzalna zikraa wainna lahuu lahaafizuuun”,kalau hadits ada garansi spt itu gak?,”laa roybafiih,hudallillmuttaqiin”,kalo elo menulis spt itu,maka elo sendiri yng menganggap al-qur’an itu mencla-mencle,orang al-qur’an sendiri sudah bilang:”teguran kpd Muhammad atas memberi nama bin muhammad kpd zaid bin haritsah”,”menganut nasab laki2(bin,siapa yng tidak kenal konsep ini?)”,siapa yng membenci Muhammad SAW? justru aku malah amat sangat mencintainya,lebih kepada ajaran yng beliau bawa(itulah hudallinnas),aku justru ingin agar ajaran murni beliau “tidak abtar”,aku ingin ajaran beliau itu selalu terjaga dari ke-bid’ah-an,dari asshobiyah yng merajalela,islam itu bukan dominasi bangsa arab atau keturunan arab yng dng semena2 me-modifikasi orisinilitas islam yng beliau bawa!,yng merasa islamnya “lebih” ketimbang yng bukan arab,beliau yng mengajarkan kemuliaan manusia itu karena ke-taqwaannya,bukan karena darahnya,jadi siapa yng membuat ajaran beliau “abtar”…? saya atau anda sendiri?
Tahukah anda siapa yng sebenarnya membenci dan menuduh nabi berkhianat terhadap risalah,dialah mereka yng mengatakan sesuatu itu “Sunnahnya”,sementara beliau sendiri “tidak pernah melakukannya”!,siapa itu…?apakah Nabi pernah tahlilan…? apakah Nabi pernah zikir dilapangan….?,siapa yng melakukan itu? aku mengatakan abtar,memang al-qur’an mengatakan begitu! bukan aku!,apakah kata2 abtar itu bahasa indonesia? atau dengan jelas tertulis di mushaf?,itulah istilah bahasa arab bagi laki2 yng mandul atau memiliki anak laki2 tetapi meninggal semua,apakah aku salah dalam memahami kata abtar?,kalau anda menyuruh melihat asbabun nuzulnya dari surat al-kautsar,memang jelas2 Nabi sangat bersedih dengan meninggalnya putra beliau,karena Nabi sendiri merasa Nasabnya terputus,tetapi Allah menurunkan surat ini sebagai penghibur,karena yng beliau takutkan adalah tidak ada penerus ajaran beliau(al-islam yng murni dan lurus ini),maka benarlah sekarang apa yng dikhawatirkan Nabi tsb,ternyata banyak orang yng mengaku2 keturunan darah dengan beliau,bahkan lebih parah lagi,merubah2 ajaran murni beliau serta menganggap apa yng beliau contohkan belumlah sempurna,makanya dibuatlah acara2 yng di kawinkan dengan budaya agama lain,dengan alasan da’wah bil-hal(buka surat al-kafirun serta asbabun nuzulnya).
Kesimpulannya sekarang siapa yng meng-abtar-kan ajaran beliau…………? aku atau kalian yng senang melakukan perbuatan yng Nabi tidak pernah contohkan,sementara kalian klaim sebagai sunnah Nabi?
Februari 2nd, 2009 pukul 1:54 pm
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.[*] (Al Kautsar : 3)
[*]. Maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Ka’bubnul Asyraf (tokoh Yahudi) datang ke Makkah, kaum Quraisy berkata kepadanya: “Tuan adalah pemimpin orang Madinah, bagaimana pendapat tuan tentang si pura-pura shabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang mengangggap dirinya lebih mulia daripada kita padahal kita menyambut oramg-orang yang melaksanakan haji, pemberi minumnya serta penjaga Ka’bah?” Ka’ab berkata: “Kalian lebih mulia daripadanya.” Maka turunlah ayat ini (S. 108:3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh al-Bazazar dan yang lainnya dengan sanad shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Nabi saw. diberi wahyu, kaum Quraisy berkata: “Terputus hubungan Muhammad dengan kita.” Maka turunlah ayat ini (S.108:3) sebagai bantahan atas ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannif dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki berarti putus turunan. Ketika putra Rasulullah saw. meninggal, al-’Ashi bin Wa’il berkata bahwa Muhammaad terputus turunannya. Maka yata ini (S.108:3) sebagai bantahan terhadap ucapannya itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi.)
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalail yang bersumber dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa yang meninggal itu ialah al-Qasim.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.108:3) turun berkenaan dengan al-’Ashi bin Wa’il yang berkata: “Aku membenci Muhammad.” Ayat ini (S.108:3) turun sebagai penegasan bahwa orang yang membenci Rasulullah akan terputus segala kebaikannya.
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang bersumber dari Mujahid.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika wafat Ibrahim putra Rasulullah saw. orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan ayat ini (S.108:1-3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dengan sanad yang dha’if yang bersumber dari Abi Ayyub.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.108:2) turun ketika Jibril datang kepada Rasulullah pada peristiwa Hudhaibiyyah memerintahkan qurban dan shalat. Rasulullah segera berdiri khutbah fithri mungkin juga Adl-ha (Rawi meragukan, apakah peristiwa di dalam Hadits itu terjadi pada bulan Ramadhan ataukah Dzulqaidah) kemudian shalat dua raka’at dan menuju ke tempat qurban lalu memotong qurban.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Sa’ad bin Jubair.)
Keterangan:
Menurut as-Suyuthi riwayat ini sangat gharib. Matan hadits ini meragukan karena shalat Ied didahului khutbah (Peny).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berkata: “Tidak seorang anak laki-laki pun yang hidup bagi Nabi saw. sehingga keturunannya terputus.” Ayat ini (S.108:3) turun sebagai bantahan terhadap ucapan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Syamar bin ‘Athiyah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah saw. wafat, kaum Quraisy berkata: “Sekarang Muhammad menjadi Abtar (putus turunannya).” Hal ini meyebabkan Nabi saw. bersedih hati, maka turunlah ayat ini (S.108:1-3) sebagai penghibur baginya.
(Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij.)
Allahul Haqq
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq
Februari 2nd, 2009 pukul 6:50 pm
Ya Allah, Berilah kejernihan hati pada saudara kami ini(KOKO) ya Robb…!
Februari 3rd, 2009 pukul 10:51 am
Duh…yg namanya koko tuh ga usah diladenin deh.Dia tuh orang dangkal pemikirannya, nyape2in doang.percuma kasi dia penjelasan org dia lebih pinter dari Imam Nawawi,lebih hafal hadist dari imam Bukhari&imam2 lainnya..gurunya nya aja Albani…hebat dia tuh.klo ngomong ama org macem dia nih kudu bawa palu,klo dia nanya mana dalilnya …ketok…nanya lagi…ketok….baru kelar.
Tahlil=Laa ilahailallah kata dia nabi saw ga pernah nyontohin??? fitnah loh..
Maulid bid’ah…Giliran anak/sodaranya yg botak,pitak,budukan..eh ultah… di rayain!!!
AlQur’an di tafsirin sendiri…emang uda hafizd loh!!
Nabi saw terputus nasabnya…NAudzubillah!!..dasar Dangkal…susah,soalnya dia ga pake mazdhab…tar lagi jg dia bikin mazdhab tandingan….
Februari 9th, 2009 pukul 6:03 pm
hmm, koment saya yang kemarin kok dihapus?
knp?
anda tidak bs membantahnya?
Februari 11th, 2009 pukul 1:41 am
Itulah ciri orang yng ahlul-bid’ah,tidak siap di komentari apalagi dibantah,sebab dengan tidak menampilkan komentar orng yng berseberangan pendapat akan bisa menutupi kesalahannya,makanya cara spt itu merip dengan penguasa yng zalim ! yng tidak siap dikritik dan menganggap orang yng mengkritik itu musuh…! mirip cara berfikir suharto….!ahlul-bidah itu selalu mencari kemapanan dari fatwa bid’ahnya,biasanya orng2 seperti ini memang mencari hidup atau mata pencahariannya dari hal-hal bid’ah tersebut.!naudzubillahiminzaaalik…!
Februari 11th, 2009 pukul 10:53 am
sunnah yng mana yang elo maksud pada tulisan ja’far umar thalib? Zikir yng di keraskan disana adalah zikir setelah sholat…! kan elo sudah tahu contain zikir setelah sholat….!kalaupun ada ichtilaf dalam implementasinya(keras atau lembut) tetapi tidak ada pertentangan thd isi dan cara ber-zikirnya! dan itu sudah jelas contoh dari nabi terhadap isi zikirnya,pembungkusnya ya sholat itu sendiri…!jadi zikir tersebut tidak terlepas dari hal yng mahdoh..! adapun yng perlu dikeraskan ya zikir semacam adzan…!yng jelas tujuannya kenapa hrs kencang..!juga pembungkus/penyebabnya juga hal yng mahdoh(berkaitan sholat)..! kan dari sini jelas….elo tidak faham dengan maksud dalil secara cerdas..! dan memaksakan dalil agar perbuatann lo itu sepertinya nyunnah…!padahal bid’ah abissss….!
Februari 11th, 2009 pukul 1:36 pm
om…koko klo ente males baca
nih ane kutipin dari Buku ‘Kenali AqidahMu’
Semoga Allah swt membuka mata hati ente….Aamiin.
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk
Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yang
diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul
saw yang sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan
mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan
risalah pada ummat yang dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan
ada yang mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara
membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap
muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini
merupakan hal yang mustahab (yang dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa
“Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yang menjadi penyebab
kewajiban dengannya maka hukumnya wajib. :em70:
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman
para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?,
berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia
tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak
punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk
pada golongan Bid’ah dhalalah.
Ucapan ulama salaf: dalam kebodohan itu adalah kematian sebelum kematian, dan tubuh mereka telah
terkubur (oleh dosa dan kebodohan) sebelum dikuburkan”.
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar
ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yang
lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu
Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dengan
doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata :
“betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Anda alergi dengan orang dzikir berpakaian putih?, kenapa?, pakaian putih adalah
sunnah nabi saw, pakaian putih adalah pakaian yang paling disenangi rasul saw, anda
alergi dengan sunnah nabi saw?, sabda Rasul saw : “barangsiapa yang tak suka
dengan sunnahku maka ia bukan dari golonganku” Shahih Muslim hadits no.1401,
shahih Bukhari hadits no,4776).
Anda alergi dengan Bid’ah hasanah?, anda bertentangan dengan Nabi saw, beliau
bersabda : “barangsiapa yang membuat buat hal baru dalam islam berupa kebaikan
maka baginya pahalanya dan pahala orang orang yang mengamalkannya, barangsiapa
yang membuat buat hal baru dalam islam berupa kejahatan maka baginya dosanya
dan dosa orang orang yang mengamalkannya.”. (shahih Muslim hadits no.1017).
“Seburuk-buruknya perbuayan antara sesama muslim adalah mereka yg melarang suatu perbuatan yang tidak ada larangannya dalam agama”
Tobatlah karena anda bertentangan dengan Alqur’an dan hadits shahih…
Wassalam
Februari 12th, 2009 pukul 10:33 am
Wahai…kaum muslimin,
Bila kalian benar2 ingin mencari kebenaran&dalil2 tentang Maulid,tahlil,tabbaruk dsb
silahkan kalian membaca buku dari Guru kami yang dimulyakan Allah swt yakni AlHabib Munzir bin Fuad AlMusawa “KENALI AQIDAHMU” dibuku tsb anda akan menyaksikan dalil2 dan pendapat para Imam yang telah hafal ratusan bahkan ribuan hadist beserta matan&sanad perawinya yg tidak ada satupun dari mereka yg ‘membid’ah’kan perbuatan tsb.
sungguh hanya membuang2 waktu yg sia2 membahas ini semua kecuali memang kalian sengaja meperdebatkan hal2 yg furu’iyyah yg hanya akan saling membela diri.Sungguh sebelum kita telah hidup ribuan Imam ahli agama Islam yg ilmunya amat sangat barakah terbukti dgn kitab2 mereka yg sdh ratusan bahkan ribuan tahun namun masih ada dan dipelajari saat ini,lebih dari kita yg cuma hafal beberapa ayat Qur’an&Hadist lalu berfatwa melakukan Pembenaran.
Bukalah mata hati kalian..agar cahaya agama Allah swt masuk ke relung hati yg paling dalam.gunakanlah akal pikiran kalian yg dikaruniakanNya tuk kita.bila kalian bertahan dgn asumsi kalian yg dangkal&dgn Nafsu itu,berkmbangkah Islam sampai saat ini,,,,???
Wa Allahu a’lam.. :em70:
Februari 12th, 2009 pukul 4:32 pm
assalam
eh koko, anda tdk pantas mengatakan/mengultimatum saudara2 muslim anda sbg ahli bid’ah, jadikanlah perbedaan ini merupakan rahmat bagi kita dari Allah SWT, anda bukan tuhan!!, anda jgn extrim, apakah itu yg telah diajarkan agamamu?, agama apa itu? agama baru yah?. bagi saya, semua ikhtilaf/perbedaan pendapat atau mazhab itu merupakan rahamat bagi kita dari Allah SWT, selagi perbedaan itu tdk bertentangan dengan Al-Quran & Al-Hadist, tinggal kita sebagai hambanya, yg mana yg kita mau.
wassalam,
Februari 16th, 2009 pukul 8:24 pm
pertama tama yang saya pengen tanyakan kepada admin, tentang penggunaan kata2 sayyidina, apakah ada dalilnya?sebab saya baca di shahih bukhari tidak ada kata2 sayyidina dalam doa tasawud awal dan akhir…
sukron…
Februari 17th, 2009 pukul 12:22 am
“”"Pak, dzikir itu di mana aja dan kapan aja boleh. Bahkan Sayyidina Umar bertakbir di pasar ketika Idul Adha. Dari mana orang tau? Karena jelas bahwa Sayyidina Umar membacanya dengan suara, secara di pasar gitu loh. Kalo ga pake suara, gimana kedengeran? Pasar itu kan bising…”"”‘
Dasar goblok memahaminya..! kalaupun Umar RA melakukan zikir,kan elo sendiri yng bilang “ketika idhul adha”,itu artinya penyebabnya itu ya “idhul adha”,itu adalah hari yng sangat di wasiatkan Nabi,tau….! nah kalo elo zikir,penyebabnya apa….?apa gara2 orang agama lain mengadakan di istora senayan…?lantas elo pada latah gitu…!
Fahami ayat “ud’uurobbakum tadorru’an wakhufyatan,innahu la yuhibbul mu’tadiiin”,itu ayat tau…!
Selama ada contoh zahir dari Nabi tentang zikir yng dikeraskan,please aja…deh….!tapikalo enggak ada contoh……..emang elo siapa? kalo Nabi itu jelas Ahlussunnah(ahlinya sunnah) nah kalo elo siapa..?elo itu ahlu apa…?emangnya elo Nabi setelah Nabi Muhammad? jadi siapa yng tidak mencintai beliau..? elo apa gue..?siapa yng mengadakan sesuatu yng tidak beliau contohkan secara zahir? elo apa gue..? jawab sendiri..?
Pancay..!
Jubah kesayangan Nabi itu yng berwarna kemerahan tau…!
Gue minta dalil,sekali lagi dalil………bahwa ada yng disebut “Bid’ah hasanah”,dalil yng mana? setahu gue “wakulla muhdasatin Bid’ah,wukulla bid’atin dholaalah”,emang ada dalil “bid’ah hasanah”?
Zeber..!
Siapa yng bilang perbedaan itu Rahmat……..? kata siapa itu..?kalo elo berani bilang bahwa itu perkataan Nabi,elo hrs berani bertanggung jawab,dari mana sumbernya itu,kalo elo bilang bahwa hal itu perkataan Nabi,mana dalilnya..?
Tahukah kalian siapa yng sebenarnya membenci Nabi itu..?dialah mereka yng mengatakan bahwa ini dari Nabi,ini sunnah Nabi,ini contoh Nabi,padahal beliau sendiri tidak melakukan itu sama sekali..!
Mereka itulah para penuduh bahwasnya Nabi telah ber-khianat tergadap risalah,mereka mengatakan bahwa apa yng mereka perbuat itu adalah perkataan Nabi,perbuatan Nabi,contoh dari Nabi,takrir dari Nabi,dll alasan pembenaran,sehingga semakin jauhlah dienul islam ini dari apa yng dicontohkan beliau sebagai agama yang sudah sempurna dalam hal urusan ibadah kepada Allah.
Yang kita mau adalah harus yng Nabi mau,bukan yng kita mau harus yng kita mau,agama terkadang sebuah keterpaksaan kepada aturan risalah,meski terkadang hati menolak,tetapi itulah hakekat dienul islam ini,ialah sebuah keterpaksaan kepada apa yng Nabi contohkan,maka sebuah keterpaksaan kepada aturan risalah,itulah yng namanya “ikhlas”,”wamaaumiru illa liya’budullah muchlisiina lahuddiiina,hunafa’a wayukiimunassholaata….dst”,ikhlas kepada aturan dari Nabi(addiin),serta lurus dalam menjalaninya(tidak dikotori oleh hal2 yng bid’ah).
JADI YNG HARUS MEMBUKA MATA SERTA HATI ITU ADALAH KALIAN,BUKAN AKU,AKU HANYA MINTA ZAHIR HADITS PERBUATAN YNG KALIAN KLAIM SEBAGAI PERBUATAN NABI,SEMENTARA KALIAN HANYA BER-QIYAS,ITUPUN JAKA SEMBUNG BAWA GOLOK,KALIAN YNG HARUS INTROSPEKSI DIRI,KARENA MUNGKIN MERASA LEBIH “ARABNYA” KETIMBANG AKU,KALIAN MERASA LEBIH DEKAT DNG NABI SECARA GENETIKANYA,TAPI KALIAN JUGA HARUS INGAT BAHWA MUSUH2 NABI,MEREKA SEMUA ADALAH ORANG2 ARAB,BAHKAN MASIH ADA PERTALIAN DARAH DNG BELIAU,TDK SPT KALIAN YNG ABU2 GITU PERTALIAN NASABNYA DNG BELIAU,NGAKU2 SENASAB DNG BELIAU LAGI..!
KETAHUILAH…!TDK ADA PERBUATAN SEBESAR ZARRAH SEKALIPUN YNG LUPUT DARI CATATAN ALLAH,KALIAN AKAN DIMINTA PERTANGGUNG JAWABANNYA KELAK DISISI ALLAH,KALIAN TIDAK BISA MENYERET2 PARA IMAM2 ITU,MEREKA TIDAK PERNAH MENDIRIKAN MAZHAB SPT APA YNG KALIAN KATAKAN,MEREKA ADALAH ORANG2 BIASA SEBAGAIMANA HALNYA YNG LAIN,MAKA RISALAH ITU ADALAH DARI ALLAH MELALUI MUHAMMAD SAW,DIA ADALAH PENUTUP SEKALIAN PARA NABI,ITU ARTINYA TIDAK ADA LAGI YNG MENDAPAT WAHYU SEPENINGGAL BELIAU,TIDAK JUGA HABIB2 YNG KALIAN BILANG ITU,YNG BISA MENGENDALIKAN AWAN DI MONAS…..!YG BISA MENGATUR AWAN MEMBENTUK LAFADZ ALLAH,SUNGGUH INI ADALAH SEBUAH KEBOHONGAN YNG BESAR…!APA KALIAN TIDAK SADARI HAL INI? KALIAN TERLALU TER-OBSESI DNG KETAKJUBAN KPD SESEORANG…!,”ATTAHIYATULILLAH”"PENGHORMATAN ITU HANYA UNTUK ALLAH” BUKAN KEPADA MANUSIA LAIN,TANPA TERKECUALI…!,KECINTAAN KPD NABI,CUKUP DENGAN MEMEGANG ERAT2 DENGAN GIGI GERAHAM KALIAN SUNNAHNYA,SEKALI LAGI…..PENGHORMATAN HANYA KEPADA ALLAH AZZA WAJALLA,DIALAH PENGUASA JAGAD SEMESTA INI,SEMUA DALAM GENGGAMANNYA,CINTA ROSUL,CUKUP DENGAN MENGIKUTI APA2 YNG BELIAU AJARKAN MELALUI SUNNAH2NYA,BUKAN DNG MENAMBAH2NYA APALAGI MENGURANGINYA,MAKA KETIKA KITA MENAMBAH2/MENGURANGINYA,MAKA SECARA TDK LANGSUNG KITA MENGANGGAP APA YNG NABI CONTOHKAN BELUMLAH SEMPURNA .
SHOLAWAT KEPADA NABI,SEBAGAIMANA YNG BELIAU CONTOHKAN,HAL ITU JELAS TERKANDUNG DI DALAM BACAAN SHOLAT KITA ATAU BER-DO’A SETELAH ADZAN DIKUMANDANGKAN(ITUPUN BELIAU AJARKAN CARA BER-DO’A NYA),SELEBIH DARI ITU,PERLU DI CEK..APAKAH DARI NABI ATAU BUKAN….!
TERIMA KASIH KEPADA PARA ULAMA YNG TAKUT KEPADA ALLAH,MEREKA ADALAH PENERUS/PEWARIS AJARAN PARA NABI,MEREKA ADALAH ORANG2 YNG DIPILIH OLEH ALLAH DNG KEHENDAKNYA,BUKAN PARA “ULAMA” YNG TDK TAKUT KEPADA ALLAH,PARA ULAMA YNG GILA POPULARITAS,GILA SANJUNGAN,GILA KEDUDUKAN,GILA HORMAT/DIHORMATI SESAMA MANUSIA,GILA KEKUASAAN,TETAPI DI DALAM DIRINYA PENUH DNG KEBOHONGAN,KEMUNAFIKAN DAN YNG PARAH LAGI ADALAH INGIN MENGGANTIKAN POSISI ALLAH DIMATA MANUSIA DNG MENJADIKAN DIRINYA THAGUT BAGI MANUSIA2 YNG LAIN.MEREKA TERJERUMUS TANPA TERASA SAMPAI AJAL MENJEMPUT……!AKU HANYA MENGINGATKAN TDK LEBIH DARI ITU…!
Februari 18th, 2009 pukul 11:04 am
Mas koko,mendingan anda belajar lagi deh,belum benar tu. baru dengar di jaman ini yang mengaku keturunan Rasull terputus. keurunan Rasullolah akan tetap ada sampai akhir jaman, dan Imam Mahdi merupakan dari keturunan rasullolah dengan nama Ahmad bin Abdullah,yang orangnnya agak gagab dan di baiat oleh pemuda yang berjumlah sama dengan waktu perang badar dulu.
Februari 18th, 2009 pukul 11:15 am
saya perhatiin tulisan-tulisan si Koko ini kayak anak SD yang baru bisa baca trus sok-sok an,dari tulisan dan bahasa nya aja kelihatan kedangkalan akal dan ilmunya,saran saya sih,balajar lagi yang benar, kalau udah tau baru ngomong disini,baru tahu kilitnya aja.. yang sabar ya Mas Admin,namanya juga anak kecil.
Februari 18th, 2009 pukul 12:40 pm
BANG ADMIN, AYO TERUS BERJUANG DENGAN KESABARAN…!
http://www.liriksolawat.com
Februari 18th, 2009 pukul 3:34 pm
Islam di Indonesia ini bisa besar karena Ulama,Habaib dan orang2 yg berjuang bersamanya..
Agama Islam yg dijabarkan oleh ABANG KOKO ini ko sepertinya ga Seperti Orang2 terdahulu yg menyebarkan agama islam di indonesia.
klo memang sunah atw apa2 yg baik itu bid’ah lalu bagaimana para WALI SONGO berjuang menyebarkan Agama Islam di negeri kita ini ya?
Para Wali SONGO tdk mungkin menyebarkan agama islam namun dengan ajaran yg tidak sesuai atw dilarang oleh agama islam?
APAKAH SEORANG KOKO MAMPU BERDAKWAH & MENYEBARKAN AGAMA ISLAM pada Zaman WALI SONGO yg notabene beragama HINDU dengan kultur budaya yg kental dan kuat?
(PASTINYA SEORANG KOKO AKAN DIASINGKAN)
Coba anda berfikir lagi, para Wali Songo berdakwah dengan cara yg tidak ada pada zaman Nabi SAW, tapi apakah itu bid’ah? (Dengan media wayang dll).Saya mendapat sedikit penjelasan tentang tahlilan di salah satu majlis yg wktu itu acaranya dekat rumah saya
” Tahlilan itu dahulu di ajarkan oleh salah satu wali songo(kalo ga salah sunan kalijogo) karena budaya pada zaman tersebut apabila ada orang yg meninggal diadakan acara Lek-lek an(bahasa jawa)yaitu begadang menemani keluarga duka namun diselingi permainan yg mengarah judi oleh karena itu diajarkanlah/diadakan acara tahlilan yg sangat lebih bermanfaat dan Alhamdulillah mendapat respon yg baik”.
Di majlis yg saya sering ikuti setiap malam minggu & mlm selasa jg dijelaskan memang ada Hadist yg mengatakan bahwa ziarah kubur itu dilarang,karena hadist tsb turun pada zaman jahiliyah yg dimana manusia pd zmn itu menyembah segala sesuatu yg dianggap mistis (batu besar,pohon besar dll).Namun setelah itu turun lg hadist yg menganjurkan untuk ziarah kubur untuk mendo’akan almarhum dan mengingatkan kita akan mati.
Kesimpulan Saya Al Qur’an & Hadist bukanlah untuk diartikan lalu berasumsi tapi untuk dimengerti & dipahami. Kita butuh jg mengetahui sejarah hidup Nabi.
Mohon maaf apabila saya (al faqir) menulis penuh dengan kesalahan/kekeliruan karena saya masih faqir dalam ilmu & agama islam.
Saya hanya ingin tak ada perpecahan dalam islam walaupun terdapat perbedaan bukankah ada Hadist yg mengatakan “Umat ku akan terbagi menjadi 72 golongan dan hanya 1 golongan yg masuk surga tanpa dihisab yaitu ahlusunnah wal jamaah”
Marilah kita berjuang dan bersatu karena guru saya Berkata “SELAMA MASIH BERDASAR RUKUN ISLAM & RUKUN IMAN YG SAMA,MEREKA ADALAH SAUDARA KITA”
Sekali lagi al faqir mohon maaf atas segala kekeliruan,kesalahan & kekhilafan.Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi kita semua. Amin..
Februari 18th, 2009 pukul 5:36 pm
Bang Admin, kasih tau dong, hosting yg bagus dimana?
yang murah juga ya bang. buat refferensi blog baru ane. hehehe.
bang Admin pake wordpress ya? gmn caranya bang?
Februari 19th, 2009 pukul 4:32 am
assalamualaikum..
saudara2ku, ada baiknya jika kita memperhatikan lagi “keislaman”
kita dalam bertukar pendapat.
akhlaqul kharimah..
akhlaqul kharimah..
akhlaqul kharimah..
jangan lepaskan “keislaman” kita ketika berdiskusi.
Walau saya pribadi melihat adanya sikap provokatif yang tidak sehat dari beberapa perespon blog ini, namun tak sepantasnya kita melepaskan akhlak dalam syiar..
tidak akan berfaedah syiar dalam sikon yang dibangun seperti ini..
mari masing2 kita beristigfar, memohon ampun kepada Allah azza wa jalla.. kita telah menggunakan ayat2nya dalam perselisihan yan bathil.
sikapilah kalamullah dengan rasa takut akan keagunganNya.
sikapilah hadist sebagai warisan yang sangat2 berharga dari rasulullah saw..
tahan emosi! syaitan tertawa lebar melihat adanya perpecahan diantara muslimin..
ketika yang menyerukan “al-qur’an dan sunnah” memperlihatkan sikapnya yang sama sekali tidak “al-qur’an dan sunnah”, maka tugas KITA untuk menunjukkan bagaimana budi pekerti yang “al-qur’an dan sunnah”..
jangan bawa2 Majelisrasulullah saudara koko!!
anda tidak sadar apa yang dapat anda sebabkan atas perkataan anda.
Umat muslim tidak butuh lagi “PERPECAHAN”!!
marilah kita sama2 belajar lagi..
janganlah kita semua berpuas diri dengan ilmu yang kita miliki.
janganlah semua berlomba2 menjadi yang “haq”.
hakikatnya kita hanyalah mencari “jalan” syariat yang terdekat dengan apa yang dijalani oleh rasulullah saw..
menggunakan nash? wajib.
menggunakan itjihad? wajib.
medan itjihad yang begitu luas membuat khasanah islam semakin kaya.
permasalahan bid’ah adalah permasalahan sisi pandang..
janganlah persempit sisi pandang kita.
ketika kita mulai merasa paling benar..
disitu pulalah kita mudah terjerumus dalam kebathilan.
semoga ada manfaat bagi kita.
wassalam..
Februari 23rd, 2009 pukul 11:05 am
Dari awal udah gue tantang,dengan bersumpah dihadapan Allah dan semua manusia yng membaca milist ini dengan :
“Gue tanggung semua dosa siapa saja orang islam yng meninggalkan perbuatan tahlilan/zikir dilapangan,kalau memang itu sunnah Nabi Muhammad SAW yng sengaja kita tinggalkan !”,itu sumpah gue !
Tapi waktu gue tuntut dia bersumpah hal yng sama:
“Dia akan menanggung dosa semua orang yng melakukan apa yng dia katakan bahwasanya itu sunnah Nabi(tahlilan/zikir lapangan,jika ternyata hal itu memang bukan berasal dari Nabi dan tidak pernah dicontohkan Nabi secara zahirnya”
Jawabannya malah ngelantur…..! dengan membawa2 para imam2 mazhab,intinya sih orang ini pengecut,alias tidak berani tanggung jawab dunia dan akhirat,mirip seperti syeitan yng membujuk Adam waktu di sorga dulu,dengan meninggalkan Adam karena telah terbujuk rayu olehnya.
Kesimpulan saya,memang Dajjal itu akan selalu menggoda aqidah umat islam yng murni,ajaran Nabi yng murni,sunnah Nabi yng murni,dengan berbagai alasan dan illat untuk pembenaran sebuah kesesatan dan kesalahan yng nyata.
Februari 24th, 2009 pukul 11:08 am
Si koko uda kehabisan akal nih…ngajak2 sumpah serapah,biarin aje die stres sendiri…tar juga gantung diri.
kayak uda ga mempan api neraka…pake mo nanggung dosa kaum muslimin,nanggung dosanya sendiri aje blm tentu sanggup.
kayak kristen aje dosa pake di tanggung/di warisin.
KITA DOAIN AJE BIAR DIE SELAMAT DUNYA WAL AKHIRAT…amin
Februari 24th, 2009 pukul 5:08 pm
:em29:
astaghfirullah,,,,
akhi,,,jagalah sikap antum sebagai seorang muslim,,
apa seperti itu mencerminkan akhlak seorang muslim???
0 besar,,,Rasulullah pun melarang kita untuk berdebat,apalagi dengan emosi,,karena dengan berdebat,,dapat mematikan hati,,,
jangan pernah bawa nama Allah,,,atau antum sendiri yang akan menanggung akibatnya,,,
terima perbedaan sebagai suatu kritikan bagi kita,,agar kita bisa lebih serius lagi dalam mempelajari din islam ini,,,unutk mencari kebenaran,,,
jangan pernah mengvonis orang lain sesat,,,karena antum bukanlah qodhi’,,,antum hanyalah seorang juru dakwah yang bertugas mendakwahkan islam kepada umat muslim di dunia,,,tentunya dengan penuh sikap lemah lembut dan kesopanan,,seperti yang rasulullah contohkan,,
sudahilah perdebatan yang tak berguna ini yang hanya mengundang emosi,,,
untuk admin,,,sabar aja ngadepin orang yang keras kepala kayak gitu,,,
la tahzan,,innallaha ma’ana,,,
KEEP SPIRIT AND ISTIQOMAH,,
ALLAHU AKBAR!!!!
Februari 25th, 2009 pukul 11:02 am
Assalaamu’alaykum… Ikhwah fillah, takutlah kpd Allah..takutlah kpd Allah..takutlah kepada Allah,KALIAN MENGAKU CINTA NABI SAAW TTP
PERBUATAN KALIAN MENGINGKARI SUNNAH NABI SAAW… makin byk orang yg mengikuti apa yg kalian serukan semakin bertambah catatan dosa yg mengalir… Ittaqillah ya Akhi
Februari 26th, 2009 pukul 4:23 pm
hey koko, perilaku elu sama persis yg Allah SWT Gambarkan dalam Al-quran mengenai orang Yahudi & Nasrani, Orang Yahudi berkata “Tidak akan mendapat apa2 ibadahnya orang2 nasrani” dan orang Nasranipun berkata “Tidak akan mendapat apa2 ibadahnya orang2 yahudi” merasa diriluh paling bener, yg lain salah, kelompokluh yg masuk surga, semua neraka bahkan gue pernah membaca ada seorang WAHABI sampai berkata “Lebih Baik Berzina Pada Pelacur Dari Pada Kita Tahlil” MASYAALLAH. “perbedaan itu rahmat” dalam arti kita ini semua saudara, jangan mengkafirkan saudara2 kita, kalau perbedaan itu bukan rahmat berarti 4 mazhab itu semua sesat, karena mereka berbeda pendapat, “pemikiran elu terlalu sempit koko”.
Maret 2nd, 2009 pukul 11:34 pm
siapa yng mengkafirkan yng lain,dasar goblok cara bacanya aja pada enggak becus,kalian itu kan mengatakan bahwa “tahlilan itu sunnah,itu artinya kalian menganggap bahwa “tahlilan itu adalah perbuatan Nabi!,gue bilang “tahlilan” itu bukan perbuatan Nabi,karena sampai detik inipun kalian tdk bisa menghadirkan sebuah dalil,bahkan yng paling dhaif sekalipun bahwasanya hal spt yng kalian maksud “tahlilan” itu pernah beliau lakukan,
terus kalo kalian bilang itu sunnah,itu artinya kalian telah meyakini bahwa itu adalah perbuatan Nabi,makanya gue minta jaminan kalian,jangan asal bilang itu sunnah,mana buktinya itu sunnah,kalo kalian yakin itu sunnah,kalian harus berani dong bersumpah bahwa itu adalah benar2 dari Nabi,sesuai dng keyakinan kalian itu,sebagaimana gue juga yakin bahwasanya itu bukan sunnah Nabi,makanya gue berani nanggung semua dosa yng mau meninggalkannya,itu baru jantan…!baik itu dimata Allah maupun dimata manusia,jangan hanya berteory lantas dng teory itu kalian akan menyeret orang lain masuk dlm keyakinan yng kalian sendiri juga limbung alias enggak yakin gitu,gue berani sumpah karena gue haqqul yakin bahwasanya itu bukan sunnah,jadi bukan persoalan gue enggak takut neraka !,bagi gue,neraka itu memang pantas buat gue,apalah gue ini,manusia yng selalu salah dan banyak dosa,tapi gue sadar betul,bahwa kehinaan itu adalah disisi Allah,bukan disisi kalian…!begitu pula kemulyaan itu juga disisi Allah,bukan dihadapan kalian,kalian enggak perlu tau siapa gue,tapi kalian gue tantang dihadapan Allah…berani gak kalian sumpah bahwa itu adalah perbuatan Nabi alias sunnahnya…! berani…..! atau kalian pengecut dan segera istighfar…..!
Nanti juga di akherat kita pasti ketemu,percayalah tdk ada yng luput dlm catatan Allah,termasuk tuduhan sekecil apapun kepada Rasulullah,yng menyatakan bahwa sesuatu itu sunnahnya,padahal enggak sama sekali….!
Jujur aja ya,gue enggak ngambil untuk sedikitpun dari apa yng gue sampaikan ini,gue hanya mengingatkan bahwasanya itu bukan sunnah Nabi,tapi kalo kalian merasa selalu benar dalam perbuatan menyangkut agama ini,ya udah bungkus aja,yng jelas tugas gue udah selesai,”fazakkir,innama anta muzakkir”,jadi gue ini hanya pengingat,kalo kalian anggap gue ini musuh kalian,itu terserah kalian aja deh….!
Maret 3rd, 2009 pukul 10:08 am
si koko suruh mati aja dulu tar kita tahlilin bareng2 klo ga sampe tahlil,dzikiran&doa kita dia suruh balik lagi ke alam dunya…setuju…ga?
uda dikasi tau ini ijma ulama,masih ngotot juga….
imam2 besar dari 4 mazdhab ga ada yg mengharamkan,paling banter memakruhkan.
emang ente sapahhhh…lebih pinter dari imam2 besar yg hafal AlQur’an & Hadist,yang dapet ilmu dari kesholehannya kpd Alloh swt hingga turun cahaya ilmu KPD MEREKA.Layaknya sayyidina Abubakar yg dijernihkan otaknya oleh Allah swt ketika sayyidina Umar meminta AlQur’an di kumpulkan/bukukan.
cuma belajar dari buku aja uda sok…ente bukan ahlinye,,ko..Dasar geblek..sesat mo ngajak2..bahlul ente.
ga usah baca Qur’an…Bid’ah
ga usah baca hadist…Bid’ah
ga usah pake komputer…Bid’ah
Maret 3rd, 2009 pukul 1:26 pm
Mang Rasulullah SAW ngajarin sumpah ya? :em67:
Maret 3rd, 2009 pukul 4:01 pm
koko yg ganteng cermati potongan firman Allah SWT “GHOIRIL MAGHDUUBI A’LAIHIM WALADDHOOLLIIN” artinya “Bukan orang2 yg engkau murkai atas mereka dan juga bukan orang2 yg sesat”. kata “dholliin” dinisbatkan bagi kaum nasrani. apakah elu tidak sadar perkataan elu telah mengkafirkan saudara2 elu seaqidah?
Maret 31st, 2009 pukul 11:44 am
Assalamu’alaikum….
saya cuma mu bilang…duuuhhh..!!! Kokoooo…koko..ko..gitu sih…aaahh..!!! :em62: :em55: :em47:
Maret 31st, 2009 pukul 12:00 pm
ngiring cumarios deui aaahhh…wios nya Pak Admin…?
sy jadi teringat lagu…kira2 begini…ee..eh..’KO’..gituu siihh…jangan maarah,,jaangan gitu sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang… :em56: :em47: aah..cuma canda dikit..jangan bilang “dasar GOBLOK” yaa… sy mah alergi dengernya juga..mohon ma’af yg sebesar2nya yaa..ga da niat tuk melecehkan siapapun, Insya Allah.
Mei 31st, 2009 pukul 8:56 pm
Cuman dua alasan kenapa para ulama NU bersikeras mempertahankan ibadah2 yg tidak ada pada zaman Nabi….adalah duit & penghormatan yg berlebihan dari para jama’ahnya.
Juni 1st, 2009 pukul 11:48 am
@Bukanu: Kamu belajar ilmu fitnah dimana? di wahabi yah?
Juni 2nd, 2009 pukul 7:53 pm
Kalo masalah duit & penghormatan bukanlah NU saja, gak bisa itu dijadikan dasar dalam itikad orang NU, yang diluar NU pun baik individu & kelompok banyak yang menjadikan agama sebagai input duit & kehormatan, hal itu tergantung masing-masing individunya, dan itu hanyalah itikad dari pribadinya, bukan organisasinya.
Saya katakan demikian bukan berarti saya orang NU dan membelanya, karena bila dilihat seluruh kelompok, golongan, oraganisasi, partai dalam bidang agama dan non agama,dalam syiarnya menggunakan & membutuhkan duit & kehormatan untuk menarik simpati dari penganutnya.
Lagian banyak orang yang sok tahu bahwa Nabi saw pada jaman dulu tidak berbuat ibadah seperti demikian, sehingga tidak ada contoh maka disebut bid’ah, padahal ketemu Nabi pun tidak, menggali sejarahpun tidak, apalagin hidup pada zaman Nabi.
Itu semua kan cuma membaca, lalu hasil dari baca tsb di anut , di fahami, sesuai karekter kecenderungan jiwa bahwa kita akan menganut, menyetejui yang mana.
Padahal shalat tarawih bulan ramadhan Nabi tidak mencontohkan nya dengan berjama’maah, dan Nabi tidak bertarawih hingga akhir ramadhan, kecuali 3 tiga kali saja di masjid secara masing-masing tanpa berjamaah. Sehingga datanglah sahabat untuk mengatur sholat agar terlihat rapi tidak masing-masing dengan berjamaah, maka sahabat itu berkata “inilah bid’ah yang baik”(bid’ah hasanah).
Selanjutnya Nabi tidak mencontohkan dan bahkan melarang Alquran & sunah-hadits dihimpun dalam Kitab, sehingga sepeninggal Nabi para sahabat berbeda pendapat tentang hukum itu, sebab tidak ada perintrah dan idzin dari Nabi, hal ini bisa disebut lebih parah dari bid’ah, sangat dilebih-lebihkan lagi, sehingga pada kitab hadits banyak sekali klasifikasinya, baik shahih, dhoif dll.
Jadi kalau kita umat islam sekarang belajar dari kitab-kitab yang dibuat atas dasar bid’ah dholalah, berarti seluruh umat islam telah jahat dan tersesat lebih dari pada bi’dah, apakah seperti itu tuntutan hukum nya ???.
Nabi tidak mencontohkan zakat dengan beras dan uang, apakah itu juga bid’ah dholalah, Nabi kalau makan duduk dengan sebelah kakinya diberdirikan untuk menekan perut, dan makan dengan tiga jari, apakah yang makan sila, duduk dibawah, di kursi, dengan sendok, apakah ini bid’ah juga??.
Saya kira umat islam yang IQ nya rendah perlu banyak belajar tentang hal Bid’ah, ijma, qiyas, dll, dengan “aqal” yang sehat(cerdas/fathonah), bukan dengan fikiran yang kaku penuh dengan hitungan pahala dan ganjaran.
Umat islam perlu banyak belajar dari berbagai hal tentang pendapat-pendapat hukum agama dari berbagai aliran, mahzab, dan para ulama zumhur yang telah menghasilkan karya Kitab-kitab pedoman, karena semua itu adalah mewakili dari pemahaman umat yang berbeda-beda tingkatannya, baik otak nya, cara berfikirnya, dan aqalnya.
Umat islam seharusnya tidak taklid(meniru & menikuti) saja, karena taqlid adalah dinding pemikiran, bila umat dalam pemahaman agamanya taqlid maka dia akan seperti kerbau dicocok hidung. Umat Islam harus gunakan aqalnya sebab aqal itulah yang menjadikan manusia faham dan memahami.
Kalau aqalnya tumpul & mati, maka umat tidak bisa membedakan mana yang baik & yang salah, maka seperti halnya pendapat “Syarif(Jantan)bahwa sholat subuh 3 rakaat dijadikan alasan bantahan untuk memahami bid’ah hasanah, …kan ini sungguh bukan jawaban yang pake aqal dan sangat konyol dalam memberikan sanggahan, karena umat seperti ini tidak memahami disiplin dalam berilmu, bisa disebut debatnya orang yang sakit jiwa, asal-asalan, seperti gatoloco.
Gatoloco dalam plesetannya dengan gaya meledek bahwa, kalau babi haram, tapi kambing yang dapet mencuri tidak haram, ini adalah bentuk-bentuk debatan sanggahan orang yang tak punya aqal, biasanya orang yang demikian memahami agama dengan fikiran saja yang terkesan nyata dan kongkrit penuh kalkualasi.
Padahal dia sendiri si Syarif(jantan) pasti kalau pergi ke berhaji tidak akan naik onta baik dari indonesia maupun di kota Makkah, karena sudah disediakan kendaraan umum, apakah ini bukan Bid’ah.
Perayaan Maulid & Tahlian sangat jelas ini bukan termasuk ibadah khusus seperti hal nya Rukun islam yang bersifat habluminallah yang telah baku aturannya tak dapat dilebih kurangkan, hal ini termasuk kegiatan hambluminanas, yang pelaksanaanya tergantung kepada tradisi & kemampuan masing-masing umat dalam pelaksanaannya.
Apakah Maulid mau di ingat dengan obrolan saja, dengan syukuran, dengan diaacarakan dsb, tidak ada aturan yang mengikat, karena ini termasuk urusan situasi keadaan duniawi, dan Nabi menyerahkan urusan duniawi kepada umatnya, demikian pula tahlilan berdoa, apakah mau berdiri, duduk bersama, majelis, ada makanan ataoupun tidak, hal tsb tidak ada aturan yang poko.
Juni 2nd, 2009 pukul 9:39 pm
Si Koko ini bener-bener dungu ya, kayak yang tahu aja kehidupan jaman Nabi, tahlilan itu kan esensinya “do’a” kepada yang mati, Nabi pun mendoakan yang telah meninggal, bahkan diperintah, dan itu sudah umum, masalah tempat dan caranya Nabi tidak mengatur & melarang, terserah umatnya sajalah.
Sedangkan kalo dilihat haditsnya secara jelas bagi yang mati hanya bawa tiga perkara, ilmu, amal, dan do’a anak sholeh, kalo dibaca tekstual hadits tsb, berarti orang lain yang bukan anaknya tidak bisa mendoakan, tapi dilain keterangan umat islam diharuskan mendoakan sesamanya baik yang masih hidup & mati.
Si koko ini siapa sih, emang dia polisi agama, sehingga ngotot seperti itu, emang si koko utusan Nabi & Tuhan ??. Dan si koko ini kayak yang paling bener aja dalam beragama islam, apa pantas ngaku islam (selamat), tapi kata-katanya kasar begitu.
Untuk si koko polisi agama, apakah juga ada contohnya dari Nabi menegakan kebenaran dengan kata-kata kasar, amar ma’ruf nahi munkar adalah mengajak berbuat baik mencegah kemungkaran, tapi juga dengan cara yang baik dan santun, bukan seperti anda dengan cara yang kasar, kotor dan munkar, kalo gitu caranya anda itu mencuci baju dengan air comberan, apa anda waras tuh !, sadari dong gak usah pake nafsu.
Lagian kenapa orang lain yang maulid dan tahlilan kok anda yang kebakaran jenggot, emangya anda penanggung jawab aturan islam, apakah dengan orang lain tahlilan maka anda menjadi rugi, bengkak, dan berdarah-darah ???, tidak toh ..!?.
Santai aja ko….., mari bicarakan kebenaran islam dengan cara yang benar dan selamat, sesuai dengan arti islam itu sendiri, gak pelu pake otot, toh anda tidak akan dimintai petanggung jawaban tentang tahlilan.
Nah temen-temen itulah yang disebut semut di kutub utara terlihat nyata, tapi kotoran kerbau nempel dipelupuk mata gak keliatan, artinya perbuatan orang lain yang belum tentu salah jelas dan nyata keliatan, tapi dia sendiri nyapein kebenaran dengan cara salah dan kasar gak nyadar, apakah ini yang namanya islam !!!???.
Juni 2nd, 2009 pukul 11:43 pm
Hai para penantang kebenaran, siapapun dia dari kalangan manapun, anda yang memahami agama dengan fikiran saja dan aqal yang lumpuh.
Nih dengarkan tantanganmu tentang sumpah, kalau hal ini yang kau mau, sebab anda yang berdebat mengenai Maulid & Tahlilan, baik itu Si Koko, Syarif, Jantan, Syed dan tek-tek bengeknya, bahwa apa yang anda hujahkan baik itu hadits & ayat yang menolak tentang sesuatu yang anda anggap bid’ah, sebenarnya anda sendiri tidak sampai dan tidak memahami kepada/tentang ayat hadits yang anda hujahkan. Anda mirip sekali dengan hadist yang anda sampaikan bahwa “kelak diakhir jaman akan ada kaum muda yang membacakan ayat & hadits tapi tidak sampai kepada kerongkongan”, nah itu adalah anda sendiri.
Karena anda ternyata tidak mengenal dan mengetahui kebijakan dalam berilmu, anda memutarbalikan keterangan seperti orng bingung dan kepepet, apa yang anda sanggah tapi kemudian anda akui sebagai hujah, ilmuwan macam apa anda ini ?, ngaji dimana anda ini !?, kok semuanya tidak pake aqal !??. IQ anda anda benar-benar dibahwah dasar, sikap dan bahasa otak anda seperti anak SD, bahkan seperti tidak sekolah, tidak punya tata krama & keluhuran akhlaq dalam ber bicara dan menyampaikan, tidak ada santun-santun nya, main emosi, apakah kamu ditugasi oleh Nabi dan Malaikat ?, apakah anda ditugasi oleh Tuhan untuk itu. ?
Nabi saja cara memberikan penjelasan tidak kalap penuh emosi seperti anda !!, apakah yang anda lakukan bukankah prakteknya kenyataan bid’ah dholalah(menyesatkan), sebab cara anda menyampaikan tidak ada contohnya secara zahir & kongkrit dari Nabi.
Inilah Sumpah saya…. kalau memang anda menantang sumpah yang anda kehendaki, bahwa:
Demi Tuhan, Saya bersumpah atas Mu, yaitu Allah Dzat Wajibul Wujud Wajibul Maulana, Allah Dzat Yang Maha Agung, Allah Ynag tiada sekutu bagi Nya, Allah yang tiada bertempat dan tiada berwarna, Allah Yang Maha Tunggal, Allah tempat berhajat semua Makhluq, Allah Yang tidak dilahirkan dan melahirkan, Allah Yang tiada setara dengan Nya.
Sesungguhnya : Maulid Nabi SAW, dengan mengingat, memperingati mensyukuri,tanda-tanda Keagungan Allah adalah Syiar dan perintah Mu seperti dalam Alqur’an, adalah benar, nyata dan jelas, saya perbuat dan saya rasakan, saya buktikan bahwa itu adalah perintah Mu.
Sesunggunya amal perbuatan Tahlilan baik membacanya, pelaksanaanya mendoakannya, dan menyampaikan bacaan kepada orang yang telah meninggal, adalah benar nyata, dan telah terbukti pada diriku sendiri dan orang tuaku yang telah tiada serta orang lain sesasma muslim, bahwa itu perintah Mu.
Demi Allah, itulah sumpah saya wahai anda yang menantang sumpah, saya bukan orang pengecut seperti yang anda sebutkan, dan semua itu adalah perintah dari Allah dalam Alqur’an,
Masalah itu perbuatan Nabi atau bukan sebenarnya tiada seorangpun yang tahu jelas dan nyata secara detail apa yang terjadi pada masa Nabi, sebab sejarah(Tarikh) Nabi banyak yang hilang dan terputus beberapa ratus tahun kemudian baru digali kembali pada era tabi it tabi’in dan para ulama mesir setelah nya.
Namun Allah & Rasul Nya memeberikan kebijakan atas fungsi aqal yang cerdas dengan istikharah dan Ijtihad serta do’a dengan kesungguhan untuk bermujahadah kepada Nya, akan sesuatu yang memebuat keraguan dan terputusnya segala sesuatu perkara tentang kebenaran yang haqiki.
Dengan Tulisan ini berarti Anda-Anda yang menganggap bid’ah Maulid & Tahlilan tengah ber Muhaballah dengan Saya, dihadapan Allah dzat yang Maha Jalal(gagah) dan Allah Dzat Maha Kamal(sempurna), saya berserah diri atas segala kebenaran yang Haqiki yang telah saya ketahui dan fahami atas petunjuk Nya. Dan atas Muhaballah ini, baik Saya yang menerima tantangan sumpah, dan Anda yang membid’ahkan Maulid & Tahlilan, maka sejak saat ini berlaku atas hukum sumpah tsb, baik akibat yang di terima, dirasakan, dan yang akan terjadi nyata atas “eksekusi” dari Muhaballah ini, akan terjadi.
Akibat dari yang menantang sumpah dengan kesombongnya, baik saya yang menerima tantangan sumpah, Maka demi Allah..Muhaballah ini disaksikan oleh Allah, karena Dia lebih dekat dari urat leher kita semua(QS). Bila kesaksian saya dalam Muhaballah ini adalah dusta dan mengada-ada, Maka saya akan menerima akibat dari eksekusi Muhaballah itu adalah “KEMATIAN”.
Dan Anda-Anda para penantang sumpah tsb, akan menerima akibat dari eksekusi Muhaballah ini yakni, anda pilih saja, apa yang anda maui, apakah anda celaka, cacat seumur hidup, gila, mati dalam keadaan sombong.
Mari buktikan,!
Bagi saya… bila saya masih hidup, saya akan muncul kembali dalam hari,minggu, bulan yang akan dating, dan bagi anda siapkanlah semoga Tuhan Allah, mengeksekusi tantangan anda, karena anda telah kasar, kotor, dan sombong dalam berbicara tentang kebenaran Allah, karena kebenaran itu harus dinyatakan dengan baik dan benar, bukan dengan cara-cara yang munkar, kecuali bila anda taubat atas prilaku anda.
Setiap orang akan mendapatkan apa yang diperbuat !!!.
Siapa yang perbuatannya kotor akan merasakan kotoran itu.
Siapa yang perbuatannya kasar akan merasakan akibat kasarnya.
Siapa yang perbuatannya menyakiti akan merasakan kesakitan itu
Siapa yang sombong, berarti telah mengambil selendang Tuhan, dan siapa yang telah mengambil selendang Tuhan, maka Tuhan akan mengadzab.
Selamat menikmati… Islam adalah selamat dan salam, dibangun dengan Rahmat dan Kasih Sayang Allah, ……..Rahmatilil’alamiin.
Juni 3rd, 2009 pukul 5:17 am
Si koko ini bener-bener ngotot ya, sudah demikian banyak keterangn dan dalil yang menjelaskan masalah tsb kok gak ngerti-ngerti, apakah emang dungu yah aqal nya lemah, gak ngerti qiyas, ijma, kok masih nuntut yang zahir, malah brani sumpah segala, kok IQ nya makin sini makin penuh emosi syetan, jangan-jangan syetan bermuka manusia, sebab bahasanya seperti iblis, kasar dan kotor, tidak pake etika sopan santun dalam tutur kata.
Mungkin inilah yang disebut Dajjal, ngotot sampaikan kebenaran dengan cara yang salah kaprah jauh dari tuntunan etika ber ilmu.
kalo gitu caranya untuk apa kamu perkeruh dan kacaukan tentang permasalahan di agama islam, apa hanya perlu indentitas saja ??,
atau memang penyusup untuk kacaukan islam, seperti kaum munafiqin, yang keras kepala ndableg kayak yahudi.
Anda ngotot kayak mau ketimpa dosa orang-orang yang anda anggap bid’ah, toh bila orang lain salah menurut pendapat anda, kan bukan Elu yang nanggung dosa, dan bertanggung jawab. Anda kok seperti juru slamaat aja, bahwa apa yang anda kemukakan tidak membawa mashlahat dan manfaat.
Juni 3rd, 2009 pukul 5:20 pm
Untuk Sdr. Koko.Abss (Ahli bid’ah sesat sejati)
Anda memang pantas dan cocok menmyandang gelar demikian, sesuai dengan hadits Rasulullah bawa kelak diakhir jaman akan ada kalangan usia muda yang membaca Aluqur’an tidak sampai melewati kerongkongannya. Artinya ayat tsb hanya menjadi suara saja, tidak pernah masuk kedalam qolbunya sebagai mana Allah menegaskan bahwa Alqur’an berada di dalam dada orang-orang yang berilmu. Anda jadikan ayat dan hadits menjadi tulisan dan hafalan dalam fikiran anda, tidak anda jadikan faham dengan aqal mu, sehingga keyakinan hatimu atas dasar doktrin fikiran tok,sedang aqal mu lemah dan lumpuh jauh dari kecerdasan(fathonah).
Sifat dari fikiran anda adalah matematis dan numerik logic, seperti robot. Sesuatu yang di “search…” dalam memori hardisk di otak anda tridak ada referensinya, maka ditolak, karena tuntutan kemampuan otak anda secara global adalah zahir dan kongkrit, padahal dalam otak tsb ada kemampuan intuisi, dan insting naluri sebagai fitrah manusia, tapi itu semua lumpuh dan melumpuh kan aqal dan fitrah anda. Sehingga yang tumbuh dalam jiwa anda hanyalah nafsu angkara, seperti halnya iblis yang menolak sujud kepada Adam, karena alasan Adam diciptakan dari tanah, demikian pemikiran kalkulasi Iblis. Sifat Iblis tsb menunjukan rendahnya intelektualitas, dan tidak mampu melihat haqikat Adam sejatinya, Persis seperti Sdr. Koko Abss. , intelektualitas anda big-zero(nol besar), tidak mampu melihat haqikat keislaman.
Karena aqal anda tidak berfungsi maka prilaku anda seperti robot kaku, bahkan lebih rendah dari binatang, Itulah apa yang disebutkan dalam Alqur’an bahwa manusia bila tak menggunakan aqal nya maka derajatnya lebih rendah dari binatang, mengapa Alqur’an menggunakan pembanding binatang ??!, karena binatang masih punya naluri.
Sdr.Koko Abss., !!!
Anda bukanlah satu satunya manusia yang berkarakter demikian di dunia ini, banyak orang yang menderita penyakit seperti anda, yaitu disebut penyakit “terhambatnya perkembangan jiwa”. Orang seperti anda kualitas jiwanya tidak akan berkembang karena lumpuhnya aqal. Organ otak yang digunakan berfikir adalah bagian dari kekuatan jasmani, demikian pula Qolbu(jantung & liver) adalah bagian kekuatan jasmani dalam pusat peredaran darah, serta kakuatan Ruhani dalam hal abstrak yaitu “rasha” keyakinan kepada Tuhan dengan petunjuk yang haqiki. Sehingga pandangan mata hati mampu menembus dimensi Tuhan sekalipun, karena itu hati merupakan pemimpin seluruh tubuh jasmani dan ruhani.
Rasulullah bersabda bahwa apabila segumpal daging(hati) itu baik, maka seluruh tubuhnya baik(jasmani & ruhani),Alqur’an menegaskan apabila didalam hati manusia ada penyakitnya, maka Tuhan akan menambah penyakit tsb”. Antara otak sebagai komponen jasmani dan qolbu sebagai komponen ruhani, maka susunan tsb sama seperti binantang, yang membedakan antara manusia dan binatang adalah adanya “aqal” pada manusia, dan dengan aqal tsb menjadikannya makhluq paling mulia diantara makhluq Allah, dan kemuliaan itu terletak pada keluhuran akhlaq prilakunya, yakni : tawadu, qona’ah, wara & ikhlash.
Aqal inilah yang akan membentuk qulaitas jiwa, menjadi jiwa yang dewasa, sehingga disebut jiwa yang besar, legowo, nrimo apa adanya,luas, dermawan, negarawan, pembrani,s portif, rendah hati, tidak rakus, baik benar suci dll. Demikian pula fitrah manusia(baik benar & suci) berada pada jiwa(ruhani tsb), sehingga yang menjadi tolok ukur kedewasaan pada manusia adalah “aqil baligh”, yaitu aqal yang baik & benar atau disebut “aqal sehat”. Aqal inilah yang akan membimbing jiwa manusia pada tingkat keluhuran akhlaq, yang selanjutnya menjadi “insaan kamil”.
Rasulullah saw bersabda bahwa yang paling banyak memasukan,manusia kedalam surga Allah adalah keluhuran akhlaq. Selama aqal anda lumpuh oleh dominasi otak karena tuntutan zahir & kongkrit, maka selama itu pula anda akan jauh tersesat, bahkan esensi ghaibnya Tuhan pun akan anda rekayasa dengan kezahiran makhluq, persis seperti faham wahabi. Otak anda hanya tahu saja “kata ghoib”, tapi aqal anda tidak mampu memahami ghoibnya, Allah, malaikat, jin, syetan, bahkan ruhani diri sendiri, yang semua itu mempunyai dimensi berbeda-beda. Demikian pula anda tidak akan mampu memahami ghoibnya aliran listrik yang merambat pada kabel, dan anda tidak memahami ghoibnya rasa asin-manis yang tidak pernah terlihat zahir & kongkrit.
Bila tuntutan anda peringatan Maulid dan Tahlilan seperti di indonesia ada contoh zahir dari Rasulullah, ya tentu walaupun dengan hadits dhaif pun tidak akan ada, tapi bila anda membuka aqal anda, maka esensi dari peringatan Maulid & Tahlilan jelas tersirat.
Seperti halnya para Ulama dan para Imam Mahzab yang tidak melarang hal tsb, bukanlah berjiwa binantang dan tidak berpenyakitan aqal & jiwanya seperti anda, mereka mempunyai disiplin ilmu yang luas, sabar, tawadhu, qona’ah, waraa & ikhlas. Mereka para ulama menentukan keputusan tidaklah sembarangan, mereka perbanyak ibadah-ibadah sunah, berdo’a terus menerus, beristikharah, bertahajud, berijtihad, bermujahadah untuk mendapatkan petunjuk Tuhan, itupun mereka tidaklah sombong dan angkuh dan berkata-kata kasar dan kotor seperti anda.
Sedangkan anda tidak sedikitpun menghasilkan sebuah karya hujah dan kitab yang bermanfaat untuk kemasalahatan umat, kecuali taqlid buta. Anda hanya mengekor itupun anda tidak memahami apa yang anda ikuti. Masih mendingan kerbau yang dicocok hidung, kerbau dengan nalurinya mentaati perintah dan maksud tuan nya, padahal kerbau tidak bisa berfikir.
Sikap anda yang arogan dalam berdiskusi tentang islam dengan kata-katra kasar dan kotor bahkan dengan sumpah palsu, telah melebihi(bid’ah), bahkan keluar(kufur) dari garis-garis fitrah manusia.
Anda bersumpah atas nama Allah, sedangkan anda tidak mengetahu siapa Yang Punya Nama Allah, bahkan kenal pun tidak, apalagi bertemu.
Bila anda menuntut zahir & kongkritnya peringatan Maulid & Tahlilan dari contoh Rasulullah, apakah ada larangan dari Rasulullah secara zahir & kongkrit tentang hal tsb ???!!!.
Wabillahit taufik wal hidayah, wa astghfirullahu, lii walakum.
Juli 1st, 2009 pukul 6:51 am
ya sudhlah buat mas koko kalau mmnag mas koko mask surga, nant ajk kita aja, kan islah sejati, g usah pake sumpah-sumpah, coz mungkn mas koko jg nda tahu apa tu hruf sumpah, palng pake goblok-goblok doank, kan kalu islm g pake itu. buat mas admind nda usah payah-payah ngeladeni nemen-nemen coz lbh banyak kbutuhan umat yang perlu pencerahan, buat yang ngatakan NU demi duit n kehormatan, aq nda yakin apa yang selama ini anda lakukakn dalm organisasi, sampean itu ngurus organisasi belum lama, NU atau yang lahir sblum proklamasi sdh merasakan perjuangan, gitu yang muda yang sopan, mereka lebh punya andil dalam islam dn negara dari pada anda yang lebh muda.