kartu kredit belanja aman

Liputan Alexis : (Dulu) Inilah Surga Dunia di Jakarta

Cerita tentang hotel Alexis kembali ramai diperbincangkan ketika gubernur Jakarta terpilih, Anies Baswedan, bersama dengan wakilnya, Sandiaga Uno, memutuskan untuk tidak memperpanjang izin operasi yang katanya tempat prostitusi berkedok hotel dan spa.

Memang isu bisnis esek-esek di tempat ini sudah menjadi rahasia umum, bahkan di tahun 2016, mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yang lebih sering dikenal dengan nama Ahok mengungkapkan hal serupa. Ahok yakin jika Alexis telah menjadi “surga dunia” bagi para pria hidung belang. “Di Alexis, surga bukan di telapak kaki ibu, tapi di lantai 7.” Ucapnya.

Lantai 7 hotel Alexis memang sudah sangat terkenal sebagai tempat prostitusi papan atas. Secara fisik, di tempat yang katanya “surga dunia” ini adalah bath house dan griya pijat. Namun, ketika malam tiba, lantai ini akan berubah menjadi seperti taman yang dipenuhi oleh wanita-wanita cantik berpakaian seksi yang siap melayani syahwat para pria.

salah satu sudut di lantai hotel alexis

One-Stop Entertainment

Hotel Alexis beralamat di Jalan RE. Martadinata, No. 1, Ancol, Jakarta Utara. Sebelum kehilangan izin usahanya, tempat ini akan sangat ramai ketika hari menjelang malam. Kalau kamu berkunjung di akhir pekan, kamu akan disambut dengan suara riuh musik yang mendentum dari klub bernama 4Play yang terletak di lantai 1.

Seperti klub biasanya, 4Play memiliki fasilitas kursi untuk bersantai dan minum-minum. Ada bar tempat memesan minuman beralkohol. Untuk membuka meja di tempat ini, kamu akan dikenai biaya minimal 2 juta. Lampu-lampu gemerlapan menambah suasana malam semakin ramai. Yang menarik dari klub 4Play milik Alexis, katanya di hari-hari tertentu ada perempuan-perempuan yang akan menari di tiang-tiang dekat bar tanpa menggunakan sehelai benang pun.

suasana suatu saat di alexis dahulu

Lantai 1 hanya secuil dari kesenangan yang ditawarkan oleh Alexis, karena primadona sesungguhnya dari tempat ini berada di lantai 7.

Untuk menuju kesana, satu-satunya akses adalah melalui lift di dekat meja resepsionis di bagian lobi. Lift ini dijaga ketat oleh sekuriti berbadan tegap. Sebelum masuk, staff Alexis akan menanyakan tujuan kamu lalu setelahnya mempersilahkan kamu masuk ke lift.

Setelah dari lift kamu akan segera di sambut oleh resepsionis yang bertugas di lantai tersebut. Kamu akan diberikan gelang berwarna merah dengan nomor tertentu yang sudah dipasangi chip. Gelang ini yang akan menjadi identitas kamu selama di sana. Gelang ini juga bisa dipakai untuk membuka loker dan dijadikan alat untuk menentukan berapa biaya yang harus di bayar di kasir.

Setelah itu, kamu harus menyerahkan handphone kepada staff keamanan sebelum bisa masuk ke area spa. Handphone kamu akan dipasangi stiker di tiap kamera-nya sebelum dikembalikan kembali. Ya, kebijakan untuk tidak membawa kamera ke area ini sangat ketat. Bagi pengunjung yang ketahuan merekam kejadian di dalam, alat perekamnya akan disita.

Tidak lama kemudian kamu akan dibawa masuk ke ruangan yang dipenuhi gazebo. Di sinilah kamu akan ditawarkan pelayanan wanita-wanita cantik yang siap untuk memberikan apapun yang kamu butuhkan termasuk pelampiasan nafsu seksual. Yang lebih mencengangkan lagi, perempuan-perempuan yang ditawarkan ini bukan hanya berasal dari Indonesia tapi juga negara-negara lain seperti Thailand, Vietnam, Uzbekistan bahkan Amerika Latin.

salah satu ruangan di alexis

Hanya Tinggal Cerita

Sekarang cerita itu Cuma tinggal kenangan. Dengan kebijakan gubernur baru, Alexis ditutup meski belum benar-benar ada bukti konkret yang bisa mengungkapkan bisnis prostitusi terselubung di tempat itu. Namun begitu, ditutupnya Alexis tidak serta merta menjadi akhir dari bisnis syahwat ini.

Sebagai contoh, bisnis perjudian Indonesia yang ditutup bertahun-tahun lalu. Tidak menjadikan judi menghilang, hanya berganti bentuk menjadi situs-situs judi bola online seperti MAHABET, karena masyarakat Indonesia selalu butuh hiburan di tengah-tengah hiruk pikuk pekerjaan.

kartu kredit belanja aman

Rumit dan Mudahnya Transportasi Online di Indonesia

Perkembangan internet sudah memasuki babak baru. Kini bisnis transportasi juga sudah merambah dunia online. Anda tinggal menggunakan ponsel pintar dengan mengunduh aplikasinya di playstore atau App store dan dimudahkan dengan aplikasi yang sudah masuk di Indonesia seperti Gojek, Grab dan Uber. Anda dapat memesan transportasi berupa motor, mobil dan taksi, tinggal disesuaikan dengan waktu dan kebutuhan Anda.

Kini, transportasi online sudah menyebar begitu pesat dan menjelajah ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Malang, Solo, Yogyakarta dan beberapa kota lainnya. Penyebaran ini juga tidak hanya menghadirkan layanan transportasi seperti motor, mobil dan taksi. Namun jasa lainnya seperti pemesanan makanan, pembelian tiket, jasa salon dan inovasi lainnya. Untuk jasa transportasi, Anda hanya tinggal memesan dengan mengetik lokasi penjemputan dan tujuan, lalu driver akan datang dan mengantarkan Anda sampai di tujuan dengan biaya yang murah dan jelas di awal pemesanan. Bahkan ada banyak promo-promo yang ditawarkan oleh masing-masing aplikasi untuk menjaring member baru.

transportasi berbasis aplikasi online

Dan masyarakatpun berbondong-bondong menjadi driver transportasi online sebagai penghasilan tambahan karena tren yang ada. Namun kemunculan transportasi berbasis online ini akhirnya banyak menuai respon negatif dan positif. Perkembangannya sangat pesat dan relatif singkat karena sebagian besar masyarakat sudah mempercayakannya sebagai salah satu kebutuhan transportasi untuk mobilitas mereka di tengah kota-kota besar dengan tingkat kemacetan yang parah.

Rata-rata orang yang menggunakan ponsel pintar memiliki salah satu aplikasi transportasi online. Ada yang menggunakannya secara terus menerus dan ada juga yang hanya sesekali. Alasannya cukup sederhana, aplikasi ini membuat mereka lebih cepat sampai ke tempat tujuan, serta aman dan nyaman.

Larisnya transportasi online ini juga dipicu oleh banyaknya oknum yang membuat transportasi konvensional menjadi terlihat kurang bagus dan nyaman. Contohnya adalah supir yang ugal-ugalan yang menerobos palang pintu kereta api dan tidak memikirkan keselamatan penumpangnya. Banyak terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh supir yang mengantuk atau emosional karena saling salip dengan sesama supir angkutan umum.

Juga kebiasaan berhenti di pinggir jalan dan ngetem yang lama membuat perjalanan penumpang menjadi terhambat dan semakin lambat. Sikap para supir yang tidak ramah dan terkesan masa bodoh pada komplen penumpang menambah ketidaknyamanan ini. Beberapa faktor tersebut membuat warga di kota-kota besar khususnya di Jakarta memilih menggunakan transportasi online karena kini mereka memiliki alternatif lain.

Dengan kemudahan yang memanjakan penggunanya, transportasi online belum bisa dianggap legal di Indonesia walaupun telah beroperasi selama beberapa tahun. Tidak jarang terjadi penolakan di wilayah-wilayah tertentu karena keberadaannya membuat ojek pangkalan, angkot dan moda transportasi lain makin menambah kurangnya penumpang mereka setelah kehadiran busway yang semakin banyak jumlah dan rutenya. Juga dengan transportasi kereta yang semakin nyaman dan tertib dengan jadwal yang semakin banyak. Penolakan ini sempat berbentuk anarkis berupa kekerasan pada driver online maupun kekerasan verbal seperti pengusiran secara langsung dan pemasangan spanduk larangan driver online di kawasan tertentu.

konvensional vs transportasi online
sumber : republika.co.id

 

Di kota besar Jakarta sendiri, transportasi ini menjadi jawaban untuk kemudahan bermobilitas dengan tarif yang lebih murah. Kebanyakan masyarakat yang menggunakan jasa ojek online mengalami penolakan dan pengusiran yang dilakukan secara terang-terangan. Namun karena demand yang besar, akhirnya penolakan ini redup dan ojek pangkalan atau angkot harus menerima kenyataan untuk berbenah diri daripada melawan arus teknologi.

Menyikapi hal ini, pemerintah mengeluarkan regulasi mengenai transportasi online yang efektif berlaku tanggal 1 November 2017 yang lalu. Regulasi ini bertujuan agar tidak ada monopoli dan juga sebagai bentuk perlindungan kepada konsumen jasa ini. Dalam regulasi ini, disebutkan sembilan poin penting di antaranya mengenai argometer, tarif, cakupan wilayah operasi, kuota kebutuhan jasa transportasi online hingga pada poin peran aplikator penyedia jasa.

Regulasi ini merupakan perbaikan dan penyempurnaan regulasi yang pernah dikeluarkan mengenai pelarangan transportasi online yang kemudian dicabut oleh MA. Alasan pencabutan didasarkan pada beberapa pertimbangan seperti konsekuensi pasar yang menginginkan jasa transportasi mudah dan murah. Dan berkembangnya pasar yang lebih kompetitif dengan mengandalkan teknologi yang makin berkembang sehingga konsumen memiliki pilihan yagn sesuai dengan kebutuhannya. MA juga menekankan pada asas musyawarah dan mufakat dalam menetapkan aturan yang melibatkan seluruh stakeholder, salah satunya konsumen yang mendapatkan manfaat besar dari adanya layanan transportasi online ini.

Diharapkan dengan lebih sempurnanya regulasi mengenai jasa transportasi online dapat menjadi solusi untuk penolakan yang ada dan kebutuhan konsumen yang menginginkan moda transportasi yang cepat dan nyaman untuk menerobos kemacetan kota. Sehingga tidak mengurangi mobilitas dan produktifitas masyarakat juga tidak mengurangi pemborosan sumber daya dan waktu karena kemacetan yang menjadi masalah klasik dan abadi di wilayah perkotaan. Juga asas keadilan bagi pemilik moda transportasi konvensional yang mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Keadilan untuk semua warga negara.